Ratu Tisha Destria Tekankan Kompetensi dan Nilai Organisasi di PSSI

Ratu Tisha Destria Tekankan Kompetensi dan Nilai Organisasi di PSSI
Foto: Ilustrasi Ratu Tisha Destria Tekankan Kompetensi dan Nilai Organisasi di PSSI.

Eksistensi perempuan dalam struktur kepemimpinan sepak bola nasional kini semakin krusial melalui peran Ratu Tisha Destria di PSSI. Sosok yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PSSI periode 2023-2027 ini menunjukkan bahwa sistem dan nilai organisasi menjadi fondasi utama dalam bekerja.

Dilansir dari Bola, Ratu Tisha memandang momentum Hari Kartini setiap 21 April sebagai pengingat untuk terus berkarya secara nyata. Baginya, kontribusi di dunia olahraga tidak boleh hanya sekadar menjadi simbol, tetapi harus dibuktikan dengan kemampuan manajerial yang mumpuni.

Dalam menjalankan tugasnya bersama Zainudin Amali di bawah kepemimpinan Erick Thohir, ia menegaskan bahwa keberhasilan seseorang ditentukan oleh kapasitas individu. Gender bukan lagi menjadi pembatas utama dalam persaingan di industri sepak bola profesional.

Ratu Tisha menyatakan bahwa dirinya mengedepankan kemampuan teknis dan profesionalisme dalam berorganisasi. Ia meyakini bahwa keterlibatan perempuan di sepak bola sudah cukup banyak dan terus berkembang seiring waktu.

"Ah tidak perempuan sendiri di sepak bola, masih banyak yang lain. Ya kalau saya sih prinsipnya kita harus bertarung dengan kompetensi, bukan bertarung dengan kuota," ujar Ratu Tisha.

"Maksud saya adalah kita harus memperjuangkan diri kita bukan sebagai perempuan atau laki-laki menurut saya sama aja sih," katanya.

Nilai-nilai dasar federasi menjadi pedoman utama yang ia pegang teguh selama menjalankan roda organisasi. Baginya, pemahaman mendalam terhadap tata kelola sepak bola merupakan kunci untuk beradaptasi dengan dinamika industri yang sangat cepat.

"Kita bertarung secara fair saya menjunjung tinggi nilai-nilai PSSI yang Respect, Discipline, Fair Play dan Unity, empat nilai itulah yang mengajarkan saya," kata Ratu Tisha.

"Maka dengan kita bertarung dengan kompetensi maka kita bisa beradaptasi dengan cepat. Sebagaimana layaknya sebuah organisasi bagian organisasi tata kelola dan football government-nya itu adalah yang utama," sambungnya.

Menepis Stigma Gender dalam Kepemimpinan

Mantan Direktur Kompetisi Indonesia Soccer Championship 2026 ini menilai perbedaan gaya kerja antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang subjektif. Menurutnya, ketelitian dan kemampuan analisis data tidak didominasi oleh jenis kelamin tertentu.

"Tidak juga sih, banyak laki-laki bekerjanya detail juga. Jadi dari pengalaman saya perspektif-perspektif tentang perempuan yang lebih bisa bagian A laki-laki lebih jago B, selama itu bukan physically karena kan kalau soal fisik kita berbeda jangan disamakan beban fisik yang sama ya," ujar Ratu Tisha.

Ia berpendapat bahwa kualitas seorang pemimpin diukur dari kedalaman pengetahuan dan ketepatan dalam mengambil keputusan strategis. Kebijakan yang diambil organisasi harus selalu didasarkan pada fakta dan data yang valid.

"Baik laki-laki atau perempuan di bidang itu harus memiliki kedalaman knowledge tentang hal yang mereka pegang. Jangan kita membuat suatu kebijakan atau misalnya nanti melakukan keputusan yang tidak didasari data, fakta dan knowledge itu yang cukup," tutur Ratu Tisha.

"Jadi bagi saya yang paling pentingnya kompetensi harus ditingkatkan dan fondasi organisasi PSSI harus dijaga," imbuhnya.

Mantan Sekjen PSSI ini juga menekankan bahwa aspek kognitif dan kepemimpinan adalah keterampilan yang dapat dilatih oleh siapa saja. Perbedaan yang muncul di lapangan kerja lebih banyak disebabkan oleh perbedaan tingkat kompetensi masing-masing individu.

"Tapi kalau kita membicarakan logic, kemampuan berpikir, mengambil keputusan, memimpin, dan lain-lain ya menurut saya bisa dilatih. Tidak ada beda yang dibedakan dalam stigma perempuan dan laki-laki. Bedanya itu karena kompetensi orangnya ya," kata Ratu Tisha.

Realisasi Karya dan Harapan PSSI

Sosok Raden Ajeng Kartini menjadi sumber motivasi bagi Ratu Tisha untuk terus produktif di bidang yang ia geluti. Ia berharap inspirasi tersebut bertransformasi menjadi karya-karya nyata yang bermanfaat bagi kemajuan sepak bola tanah air.

"Tapi inspirasi itu kan harus dibuktikan dengan karya ya setelah kita terinspirasi kemudian apa jangan sampai kita terinspirasi lalu karyanya apa."

"Sehingga memotivasi kita untuk terus berkarya," ujar perempuan yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Asia Tenggara (ASEAN) pada 2019 tersebut.

Memasuki usia ke-96 tahun, PSSI saat ini sedang menyusun berbagai rencana strategis, termasuk ambisi besar untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia 2030 mendatang. Hal ini menuntut kerja keras seluruh elemen organisasi untuk mewujudkannya.

"Harus bekerja tidak boleh bermimpi ini saatnya bekerja," pungkasnya.

Artikel terkait

Rekomendasi