Presiden Lee Jae Myung memberikan teguran keras secara resmi pada Rabu (27/5) terkait lonjakan ekstrem tarif penginapan di Busan, Korea Selatan, menjelang konser dunia BTS bertajuk Arirang pada 12 dan 13 Juni mendatang.
Aksi getok harga dari para pelaku usaha akomodasi tersebut dilaporkan mencapai rata-rata 7,5 kali lipat dari tarif normal dan memicu kekecewaan mendalam bagi wisatawan domestik maupun internasional.
Berdasarkan data Korea Consumer Agency yang dilansir dari Media Indonesia, tarif Airbnb termurah di kota pelabuhan tersebut melonjak menyentuh angka 467.000 won atau sekitar Rp5,3 juta per malam dari harga normal yang hanya sebesar 77.000 won.
Sementara itu, harga untuk hotel kelas atas dilaporkan telah menembus angka 1 juta won per malam akibat momentum perayaan debut ke-13 BTS tersebut.
Banyak pengelola penginapan bahkan membatalkan reservasi lama secara sepihak dengan alasan kelebihan pemesanan atau renovasi, demi menjual kembali kamar dengan harga jauh lebih tinggi.
Keluhan datang dari seorang mahasiswa asal Jerman yang tinggal di Korea, Verena Thiel, yang terpaksa membayar biaya enam kali lipat dari harga biasa untuk satu kamar Airbnb.
"Ini bukan hanya soal Busan, saya paham kenaikan harga saat acara besar, tapi tambahan 400.000 won? Itu keterlaluan," ujarnya.
Kondisi ini memaksa sebagian penggemar mencari alternatif tempat tinggal di luar kota demi menghindari eksploitasi harga.
Eunice, seorang guru asal Filipina, memilih untuk menginap di kota tetangga, Ulsan, setelah melihat tarif akomodasi di Busan melonjak hingga sepuluh kali lipat.
"Ini bukan hanya soal Busan, saya paham kenaikan harga saat acara besar, tapi tambahan 400.000 won? Itu keterlaluan," ujarnya.
Pemerintah Kota Busan kini tengah menggelar inspeksi mendadak untuk memeriksa kemungkinan adanya pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Kesehatan Masyarakat.
Sebagai solusi darurat, sejumlah kelompok keagamaan, universitas, dan lembaga publik mulai menawarkan opsi akomodasi gratis atau terjangkau meskipun jumlahnya masih sangat terbatas.