Tompi Jelaskan Kaitan Medis Operasi Hidung dan Sinusitis

Tompi Jelaskan Kaitan Medis Operasi Hidung dan Sinusitis
Foto: Ilustrasi Tompi Jelaskan Kaitan Medis Operasi Hidung dan Sinusitis.

Musisi sekaligus dokter spesialis bedah plastik, Tompi, memberikan klarifikasi medis terkait fenomena figur publik yang menjalani operasi hidung dengan alasan sinusitis pada Senin, 27 April 2026. Penjelasan ini bertujuan meluruskan persepsi masyarakat yang meragukan kaitan antara prosedur estetika dengan gangguan kesehatan sinus.

Melalui pernyataan yang dilansir dari Suara, Tompi menekankan bahwa tindakan medis tersebut memiliki landasan ilmiah yang valid dan tidak selalu merupakan upaya untuk menutupi prosedur kecantikan semata. Penegasan ini muncul setelah ramainya komentar negatif warganet terhadap sejumlah artis.

"Tidak selalu bohong atau salah bila ada orang yang mengaku operasi hidung karena alasan sinusitis," tulis Tompi.

Tompi memaparkan bahwa sinisme publik terhadap pengakuan para artis perlu diluruskan melalui pemahaman medis yang tepat mengenai kompleksitas penyakit sinusitis. Menurutnya, diagnosis dan metode penyembuhan sinusitis bersifat sangat variatif tergantung pada kondisi masing-masing pasien.

"Bisa banget itu bener. Kecuali yang bersangkutan pura-pura sinusitis. Tidak berarti juga semua pasien sinusitis harus operasi hidung," jelas Tompi.

Dokter bedah ini menambahkan informasi mengenai aspek teknis penanganan sinusitis yang melibatkan struktur anatomi hidung. Ia mengingatkan bahwa kondisi fisik pasien memengaruhi keberhasilan prosedur bedah yang dilakukan.

"Sinusitis itu kompleks dan bisa multi factorial. Penanganannya pun macam-macam," imbuhnya.

Lebih lanjut, Tompi memberikan catatan khusus bagi pasien di wilayah Asia mengenai risiko prosedur Septoplasty dan Functional Rhinoplasty. Karakteristik fisik tertentu membuat pasien Asia harus lebih berhati-hati sebelum memutuskan menjalani tindakan tersebut.

"Penjelasan di atas untuk ngasih tau aja bahwa yang ngaku-ngaku operasi karena sinus berulang itu belum tentu bohong. Semoga cukup jelas dan menepis ketersinggungan," terangnya.

Terkait kemungkinan melakukan perbaikan fungsi tanpa mengubah aspek estetika, Tompi mengonfirmasi hal tersebut secara medis dapat dilakukan. Namun, ia tidak menampik adanya fenomena pasien yang meminta perubahan bentuk hidung bersamaan dengan prosedur medis utama.

"Cukup sering bentuknya jadi lebih mancung, itu karena request 'sekalian deh' mumpung karena sudah dibuka. Ya bisa dikerjakan 'sekalian' sebagai bonus. Aji mumpung," tandasnya.

Pernyataan Tompi tersebut mendapat berbagai respons dari masyarakat, termasuk kritik dari kalangan tenaga kesehatan yang melayani pasien jaminan kesehatan negara. Kekhawatiran muncul mengenai potensi penyalahgunaan alasan medis untuk tujuan kecantikan oleh pasien umum.

"Bukan tersinggung. Masalahnya nambah-nambahi kerjaan kami tim yang melayani pasien-pasien BPJS ini. Op sinus jadi minta dibonusin mancung," sindir akun @prilla_bette_kr***.

Selain aspek beban kerja tenaga medis, perdebatan juga menyentuh sisi nilai keyakinan mengenai larangan mengubah bentuk fisik untuk tujuan estetika semata. Beberapa warganet menilai penjelasan tersebut bisa disalahgunakan sebagai pembenaran tindakan yang dilarang.

"Masalahnya jadi alasan untuk dibenarkan, padahal dalam islam jelas merubah bentuk untuk mempercantik itu haram. Jangan mentang-mentang situ dokter estetika bisa membenarkan," sahut akun @rasiliabrus***.

Artikel terkait

Rekomendasi