Pemeran Film Tumbal Proyek Ungkap Tantangan Mental dan Isolasi Syuting

Pemeran Film Tumbal Proyek Ungkap Tantangan Mental dan Isolasi Syuting
Foto: Ilustrasi Pemeran Film Tumbal Proyek Ungkap Tantangan Mental dan Isolasi Syuting.

Aktor film Tumbal Proyek mengungkapkan berbagai tantangan psikologis dan metode akting ekstrem yang mereka jalani selama proses syuting dalam konferensi pers di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis, 7 Mei 2026. Para pemeran utama mengaku harus menghadapi ketakutan nyata akibat kualitas riasan prostetik hingga isolasi mandiri di lokasi set.

Dilansir dari Suara, para pemain membagikan kisah tentang totalitas pengerjaan film yang berdampak pada kondisi mental mereka. Aktor muda Kiesha Alvaro, yang memerankan tokoh Yuda, mengaku terganggu secara psikologis akibat visual efek riasan yang terlihat sangat realistis saat adegan kesurupan massal.

"Adegan kesurupan massal itu take-nya di ending schedule hari itu. Jadi semuanya sudah capek, sudah drained," kenang Kiesha Alvaro.

Kiesha menambahkan bahwa meski dirinya menyukai genre film kekerasan, situasi nyata di lokasi syuting dengan efek prostetik berkualitas tinggi memberikan tekanan tersendiri bagi pikirannya.

"Semenyeramkan itu, bahkan aku sendiri kan pecinta film-film gore. Tapi ketika dihadapkan dengan situasi di real life-nya kayak gitu, lumayan mengganggu pikiranku," tambahnya.

Callista Arum, pemeran tokoh Laras, menghadapi tantangan teknis berupa pendalaman dialek dan tata cara ibadah yang berbeda dari kesehariannya. Ia sempat mengalami kesulitan saat melakukan adegan berdoa karena harus menyesuaikan dengan keyakinan karakter yang diperankan.

"Tantangannya itu belajar doa-doa Katolik ya. Kadang aku suka sampai slip, untungnya kru ada yang Katolik jadi dibantuin pas berdoa Salam Maria," ujar Callista.

Selain aspek religi, Callista juga melakukan aksi fisik berbahaya seperti diseret dalam sebuah adegan. Kondisi set yang dibuat menyerupai kenyataan membuat rasa takut yang ia tampilkan di depan kamera muncul secara spontan.

"Aku harus berani keseret. Set-nya bener-bener sangat membantu, sampai aku ngerasa ada beberapa scene aku kayak enggak akting deh. Ketakutannya itu enggak akting, itu beneran," tegasnya.

Aktris senior Karina Suwandi yang berperan sebagai Martha menerapkan metode khusus untuk menjaga suasana mencekam bagi pemeran muda lainnya. Ia memilih membatasi interaksi fisik agar emosi ketakutan yang dibangun oleh Kiesha dan Callista tidak luntur saat kamera mulai merekam.

"Pas syuting saya harus berpisah sama anak-anak. Saya enggak mau kalau Laras sama Yuda tuh melihat saya dalam kondisi make-up gitu. Kan males ya melihat saya malam-malam, apalagi kondisi Ibu (Martha) sudah mulai lemah," ungkap Karina.

Karina menyatakan bahwa dirinya lebih banyak memosisikan diri sebagai pendengar bagi aktor-aktor muda guna menjaga dinamika kerja yang harmonis. Meskipun sering memberikan dukungan emosional, ia tetap menjaga jarak fisik saat sudah menggunakan riasan hantu.

"Saya enggak mau menasihati sebagai senior. Saya lebih senang mendengarkan mereka karena saya harus beradaptasi di masanya mereka. Kita bertiga sering pegangan tangan buat rasain energinya, tapi kalau sudah pakai make-up hantu, saya pilih pisah ruangan," imbuhnya.

Artikel terkait

Rekomendasi