Jaksa Tuntut Mino WINNER Hukuman Penjara Terkait Kasus Wajib Militer

Jaksa Tuntut Mino WINNER Hukuman Penjara Terkait Kasus Wajib Militer
Foto: Ilustrasi Jaksa Tuntut Mino WINNER Hukuman Penjara Terkait Kasus Wajib Militer.

Penyanyi Song Min-ho alias Mino dari grup WINNER terancam hukuman penjara setelah jaksa penuntut umum mengajukan tuntutan 18 bulan dalam sidang perdana kasus pelanggaran kewajiban militer. Sang artis dilaporkan mangkir selama 102 hari saat menjalankan tugas sebagai pegawai negeri sipil.

Dilansir dari Detik Health, pelantun lagu tersebut mengakui bahwa dirinya mengalami gangguan kesehatan mental yang signifikan. Meskipun memiliki riwayat medis tersebut, Mino menegaskan bahwa kondisi kesehatannya bukan menjadi alasan di balik kelalaiannya dalam menjalankan tugas negara.

Sorotan publik terhadap kasus ini kembali mengarah pada pernyataan kesehatan mental yang pernah diungkapkan sang idola pada 2022 lalu. Mino menyebutkan bahwa diagnosis gangguan bipolar dan gangguan panik sebenarnya sudah ia terima sejak tahun 2017 silam.

"Saat itulah saya mulai menemui dokter. Saya didiagnosis gangguan panik dan bipolar, jadi sekarang saya menerima perawatan dan obat-obatan untuk itu," kata Mino, dikutip dari Koreaboo.

Artis asuhan YG Entertainment ini sempat menceritakan perjuangan beratnya dalam menghadapi ketidakstabilan emosi di sela-sela kesibukan jadwal di industri hiburan. Ia mengaku sering mengalami tekanan batin yang mendalam saat berada di balik layar kamera.

"Itu sangat sulit. Saya akan menangis ketika tidak ada yang melihat setelah istirahat syuting, lalu kembali syuting lagi. Hidup terasa tragis setiap kali kamera berhenti merekam," sambung Mino, dikutip dari Koreaboo.

Merujuk pada penjelasan Mayo Clinic, gangguan bipolar merupakan kondisi kesehatan mental yang memicu perubahan suasana hati secara ekstrem. Gejala yang dialami penderita meliputi fase mania atau euforia yang meluap-luap, serta fase depresi yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam dan kehilangan minat aktivitas.

Beberapa faktor medis diidentifikasi sebagai pemicu kondisi ini, termasuk perbedaan biologis pada struktur fisik otak serta faktor genetika dari kerabat tingkat pertama. Selain itu, tingkat stres yang tinggi akibat peristiwa traumatis serta penyalahgunaan zat tertentu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi