Meryl Streep Kritik Fenomena Marvelisasi di Industri Perfilman Modern

Meryl Streep Kritik Fenomena Marvelisasi di Industri Perfilman Modern
Foto: Ilustrasi Meryl Streep Kritik Fenomena Marvelisasi di Industri Perfilman Modern.

Aktris legendaris Meryl Streep melontarkan kritik tajam terhadap tren produksi film Hollywood yang kini didominasi oleh formula waralaba besar dalam sesi bincang-bincang di Festival Film Cannes pada 2 Mei 2026. Streep menilai fenomena yang ia sebut sebagai Marvelisasi ini telah mengorbankan aspek kemanusiaan demi kepentingan komersial semata sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Pemenang tiga Piala Oscar tersebut hadir di festival bergengsi itu untuk menerima penghargaan kehormatan Palme d'Or. Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pola kerja studio besar yang cenderung menghindari risiko dengan memproduksi konten seragam yang dapat diprediksi secara alur maupun karakter.

"Semuanya mulai terasa seragam," ujar Streep dilansir dari Variety (2/5).

Ketidaksukaan Streep berakar pada hilangnya elemen kejutan dalam sinema modern akibat obsesi industri terhadap angka penjualan yang pasti. Menurutnya, karakter-karakter yang memiliki kompleksitas dan kontradiksi kini semakin jarang ditemukan di layar lebar karena digantikan oleh struktur plot pabrikan.

"Ketika sebuah industri hanya fokus pada apa yang sudah pasti laku, kita kehilangan elemen kejutan. Kita kehilangan karakter yang kontradiktif, berantakan, dan benar-benar manusiawi. Film-film sekarang terasa seperti makanan cepat saji; memuaskan sesaat, tapi tidak meninggalkan nutrisi bagi jiwa." papar Streep.

Streep membandingkan pergeseran budaya ini dengan kesuksesan film ikoniknya, The Devil Wears Prada, yang mengandalkan kekuatan karakter tanpa efek visual besar. Ia menyoroti perbedaan signifikan antara investasi studio pada drama orisinal di masa lalu dibandingkan dengan pengeluaran ratusan juta dolar untuk sekuel pahlawan super saat ini.

"Bayangkan jika The Devil Wears Prada dibuat hari ini," katanya berseloroh.

Pernyataan tersebut merujuk pada kemungkinan Miranda Priestly diubah menjadi sosok dengan kekuatan supernatural jika film tersebut diproduksi dalam ekosistem industri sekarang. Padahal, Streep menegaskan bahwa esensi daya tarik karakter tersebut terletak pada karisma manusiawi dan ketajaman dialognya.

"Mungkin mereka akan mencoba mengubah Miranda Priestly menjadi penjahat super dengan kekuatan telekinetik. Padahal, kekuatan Miranda yang sesungguhnya ada pada tatapan matanya dan caranya menjatuhkan mental seseorang hanya dengan satu kata 'That's all'." cetus Streep.

Kritik ini muncul bersamaan dengan langkah Academy Awards yang mulai memperketat aturan penggunaan kecerdasan buatan (AI) guna melindungi kreativitas manusia. Streep menekankan bahwa teknologi seharusnya hanya menjadi alat bantu, bukan pengalih perhatian utama yang mengaburkan inti cerita bagi para penonton.

"Penonton butuh melihat diri mereka sendiri di layar-bukan dalam bentuk dewa yang bisa terbang, tapi dalam bentuk manusia yang ragu, salah, dan tumbuh," urai Streep.

Melalui pernyataan penutupnya, ia mendesak para eksekutif studio untuk kembali memberikan panggung bagi narasi yang berfokus pada ketidaksempurnaan manusia. Streep memperingatkan bahwa ketergantungan pada formula pahlawan super secara terus-menerus akan menciptakan masa depan sinema yang monoton.

"Jika kita terus melakukan 'Marvelisasi' pada setiap cerita, kita akan berakhir di dunia sinema yang sangat sunyi dan membosankan." tegas Streep.

Artikel terkait

Rekomendasi