Band Mantrika Rilis EP Ritus Jalanan Bareng Ari Prastowo Letto

Band Mantrika Rilis EP Ritus Jalanan Bareng Ari Prastowo Letto
Foto: Ilustrasi Band Mantrika Rilis EP Ritus Jalanan Bareng Ari Prastowo Letto.

Band asal Jakarta, Mantrika, resmi merilis album mini (EP) perdana bertajuk Ritus Jalanan sebagai bentuk jawaban atas eksistensi musik rock pada Senin (27/4/2026). Karya ini menandai upaya transformasi genre rock agar tetap relevan dengan realitas generasi masa kini melalui pendekatan yang lebih gelap dan reflektif.

Proyek musik ini menarik perhatian publik karena melibatkan pemain bas grup musik Letto, Ari Prastowo, sebagaimana dilansir dari Detik Hot. Kehadiran Ari membawa warna baru yang berbeda dari karakter emosional yang selama ini melekat pada dirinya melalui lagu-lagu populer terdahulu.

"Rock itu tidak pernah benar-benar hilang. Dia hanya mencari bentuk baru yang lebih jujur dengan zamannya," ujar Ari Prastowo, Musisi.

Ari menekankan bahwa kolaborasinya dalam Mantrika bertujuan untuk menciptakan ruang eksplorasi yang murni tanpa harus terbebani oleh masa lalu. Fokus utama grup ini adalah menghadirkan kejujuran dalam berkarya di tengah perubahan tren digital yang sangat cepat.

"Kami datang dengan pengalaman, tapi tidak ingin terjebak nostalgia. Mantrika adalah ruang baru untuk eksplorasi yang lebih jujur," lanjut Ari Prastowo, Musisi.

Vokalis Mantrika, Krist, menjelaskan bahwa EP Ritus Jalanan dikemas sebagai satu kesatuan pengalaman bagi para pendengarnya. Setiap lagu dalam album tersebut memiliki peran spesifik untuk membangun narasi yang utuh mengenai perasaan kolektif personel saat ini.

"Kami tidak berusaha menghidupkan kembali rock lama. Kami hanya jujur dengan apa yang kami rasakan hari ini. Ritus Jalanan itu seperti perjalanan, setiap track punya peran dalam cerita," ujar Krist, Vokalis Mantrika.

Salah satu lagu utama berjudul Partikel Dosa dipilih untuk menggambarkan pergulatan batin manusia dalam skala yang lebih kecil. Mantrika berusaha menyoroti aspek-aspek mikro yang sering terabaikan namun memiliki dampak besar dalam pembentukan karakter seseorang.

"Dosa di lagu ini bukan sesuatu yang besar dan dramatis. Justru yang kecil-kecil, yang sering kita abaikan, tapi diam-diam membentuk kita," kata Krist, Vokalis Mantrika.

Secara teknis, grup ini menggabungkan distorsi gitar khas musik rock dengan sentuhan elemen elektronik untuk menciptakan suasana yang intim. Keyboardist Mantrika, Fendi, menyatakan penggunaan tekstur elektronik berfungsi memperkuat kedalaman rasa dalam setiap komposisi.

"Kami banyak bermain di ruang dan suasana. Synth dan tekstur elektronik bukan sekadar hiasan, tapi untuk memperkuat rasa," ujar Fendi, Keyboardist Mantrika.

Langkah Mantrika dengan merilis EP yang saling terhubung antar lagu menjadi strategi untuk tetap beradaptasi di industri musik tahun 2026. Meskipun rock tidak lagi menjadi arus utama, grup ini membuktikan genre tersebut masih memiliki suara melalui adaptasi bentuk-bentuk baru.

Artikel terkait

Rekomendasi