Membangun Kembali Literasi Demokrasi Generasi Muda

Membangun Kembali Literasi Demokrasi Generasi Muda
Foto: Ilustrasi Membangun Kembali Literasi Demokrasi Generasi Muda.

BELAKANGAN ini, kita sering melihat praktik demokrasi di ruang publik berjalan kurang sehat. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi pertengkaran, musyawarah semakin jarang, dan keputusan kerap diambil tanpa melibatkan banyak suara. Demokrasi memang masih ada, tetapi nilai-nilai dasarnya, seperti saling mendengar, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas keputusan, semakin memudar.

Beberapa indikator, seperti data Setara Institute (2023) tentang intoleransi pelajar, mengisyaratkan melemahnya literasi demokrasi generasi muda. Tidak sedikit pelajar yang memahami demokrasi secara teoretis, tetapi belum terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang disampaikan John Dewey, Democracy has to be born anew every generation, and education is its midwife.ÔÇØ Demokrasi tidak lahir begitu saja; ia harus ditumbuhkan melalui pendidikan.

Sebagai guru, kegelisahan itu tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan. Jika kualitas demokrasi di masyarakat menurun, ditandai dengan menguatnya polarisasi, maraknya ujaran kebencian di media sosial, dan menipisnya toleransi, bagaimana cara menanamkan nilai demokrasi sejak dini? Sekolah tidak bisa lagi sekadar mengajarkan demokrasi sebagai konsep; ia harus menjadi ruang praktik. Di sinilah peran OSIS menjadi penting.

Melalui OSIS, siswa belajar memilih pemimpin, menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan menerima keputusan bersama. Mereka belajar bahwa memimpin tidak berarti memerintah dan perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan. Sayangnya, OSIS sering dipandang sekadar sebagai panitia kegiatan atau pelengkap administrasi. Padahal, jika dikelola dengan baik, OSIS dapat menjadi laboratorium kepemimpinan demokratis yang penting bagi pembentukan karakter siswa.

Salah satu praktik sederhana demokrasi di sekolah ialah pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS. Prosesnya dirancang menyerupai pemilihan umum: mulai pendaftaran calon, kampanye, debat visi-misi, hingga pemungutan dan penghitungan suara secara transparan. Tidak hanya kandidat, partisipasi siswa sebagai pemilih menjadi bagian penting dalam pembelajaran demokrasi.

Dari proses itu, siswa belajar banyak hal. Para kandidat belajar mempersiapkan diri, menyampaikan gagasan, serta menerima hasil dengan lapang. Mereka memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin orang lain, melainkan juga mengelola diri sendiri. Bagi yang tidak terpilih, pengalaman itu menjadi pelajaran berharga tentang menerima kekalahan dan bangkit kembali. Seorang siswa kelas XI mengungkapkan bahwa meskipun kekalahan terasa menyakitkan di awal, justru kekalahan itulah yang menjadi bahan bakar untuk meraih prestasi selanjutnya. Baginya, kekalahan bukanlah akhir, melainkan awal dari kemenangan berikutnya karena ia percaya bahwa kekalahan ialah kemenangan yang tertunda.

Namun, praktik itu tidak selalu berjalan ideal. Rendahnya partisipasi, kecenderungan memilih tanpa pertimbangan matang, hingga dinamika kampanye yang kurang sehat kadang masih terjadi. Fenomena itu justru mengingatkan bahwa demokrasi bukan sekadar prosedur, melainkan juga proses belajar yang panjang. Sebagaimana dikatakan Barack Obama, ÔÇ£The most important office in a democracy is the office of citizen.ÔÇØ Dalam konteks sekolah, setiap siswa ialah warga yang sedang belajar menggunakan hak dan tanggung jawabnya.

OSIS bukan sekadar penyelenggara kegiatan, melainkan juga ruang belajar kepemimpinan yang nyata. Di dalamnya, siswa belajar bertanggung jawab, mengelola waktu, bermusyawarah, berkomunikasi, serta menyelesaikan masalah. Seorang pemimpin tidak hanya bertugas memberikan perintah, tetapi juga belajar mengajak orang lain menjaga nama baik sekolah, sebuah refleksi yang muncul dari pengalaman siswa kelas XII.

Dalam praktiknya, kepemimpinan tidak selalu berjalan mulus. Konflik sering muncul, baik karena pembagian tugas yang tidak merata, komunikasi yang kurang jelas, maupun ego pribadi anggota. Namun, justru dari dinamika itulah siswa belajar memahami arti kerja sama dan tanggung jawab. Seperti kata John Dewey, ÔÇ£Failure is instructive.ÔÇØ Kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses belajar.

Agar OSIS benar-benar menjadi ruang belajar demokrasi, program kerja yang dirancang juga perlu memberikan ruang dialog. Forum aspirasi siswa, diskusi terbuka, atau evaluasi bersama dapat menjadi sarana penting untuk melatih keterampilan demokratis. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjalankan kegiatan, tetapi juga belajar mendengar, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan bersama.

Di sinilah makna OSIS sebagai 'laboratorium demokrasi' menjadi relevan. Dalam sebuah laboratorium, tidak semua percobaan berhasil. Ada kesalahan, kegagalan, dan proses perbaikan. Begitu pula dalam OSIS, kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran.

Peran guru pembina menjadi kunci dalam proses itu. Guru tidak lagi cukup berperan sebagai pengendali, tetapi perlu menjadi fasilitator. Ketika guru terlalu dominan, siswa hanya belajar patuh, bukan belajar memimpin.

Sebagai fasilitator, guru mendampingi siswa dalam mengambil keputusan, membantu mereka mempertimbangkan risiko, serta mengarahkan tanpa mengambil alih. Guru juga menjadi pendengar dan jembatan antara siswa dan pihak sekolah. Dengan pendekatan itu, siswa belajar bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil. Namun, perubahan peran itu tidak selalu mudah. Dibutuhkan kepercayaan kepada siswa dan kesiapan menerima bahwa proses belajar kepemimpinan tidak selalu berjalan sempurna. Kesalahan justru menjadi bagian penting dari pembelajaran.

Di tengah praktik demokrasi yang hari ini sering terasa kering dari dialog dan miskin keteladanan, sekolah memiliki peran yang tidak bisa ditunda. OSIS, dengan segala keterbatasannya, ialah ruang kecil tempat nilai-nilai demokrasi dapat dilatih secara nyata: mendengar sebelum memutuskan, berbeda tanpa bermusuhan, dan memimpin dengan tanggung jawab. Jika kita ingin melihat lahirnya pemimpin yang demokratis pada masa depan, ruang-ruang kecil seperti OSIS tidak boleh dipandang remeh.

Reformasi OSIS tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Hal sederhana seperti memperbaiki proses pemilihan pengurus, memberikan ruang diskusi terbuka, serta melibatkan siswa dalam evaluasi kegiatan sekolah sudah menjadi langkah awal yang penting. Seperti yang pernah diungkapkan Nelson Mandela, "Seorang pemimpin itu seperti seorang gembala. Ia berada di belakang kawanan, membiarkan yang paling lincah berjalan di depan, kemudian yang lain akan mengikuti."

- Pemerintahan Prabowo Didesak Berantas Korupsi Lebih Progresif 21/5/2026 20:58 Komunitas aktivis 98 Resolution Network menegaskan komitmennya untuk mengawal jalannya pemerintahan Prabowo agar tetap sejalan dengan amanat reformasi 1998 dan konstitusi

- Harus Ada Partai di Luar Pemerintah demi Jaga Demokrasi 21/5/2026 10:17 Pengamat Politik BRIN Lili Romi mengaku sepakat dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya keberadaan partai politik di luar pemerintahan.

- AJI dan SAFEnet Soroti Narasi ÔÇ£Antek AsingÔÇØ hingga Maraknya Serangan Digital 19/5/2026 17:23 Menurut dia, praktik tersebut berdampak langsung terhadap kredibilitas media dan jurnalis yang selama ini bekerja dengan modal kepercayaan publik.

- Harapan di Tengah Distraksi Kebangsaan 15/5/2026 05:05 PERAYAAN Kenaikan Yesus pada hakikatnya membawa makna spiritual yang mendalam tentang harapan, arah, dan masa depan manusia.

- Pendanaan Internasional tak Hilangkan Nasionalisme 14/5/2026 14:49 Aktivis Trend Asia dan WALHI memberikan tanggapan terkait isu pendanaan asing pada NGO dan pentingnya peran masyarakat sipil dalam demokrasi.

- WJSLS 4.0 Perkuat Kepemimpinan Pelajar Peduli Lingkungan di Jawa Barat 16/4/2026 12:26 Kegiatan yang digagas Forum OSIS Jabar bersama Tel-U ini menjadi wadah penguatan karakter kepemimpinan sekaligus kepedulian lingkungan bagi generasi muda.

- SPMB 2025 : Siswa Aktif jadi Pengurus OSIS Bisa Dipertimbangkan Jalur Kepemimpinan 30/1/2025 21:36 Mereka yang aktif sebagai pengurus OSIS atau misalnya Pramuka atau yang lain-lain nanti akan menjadi pertimbangan jalur prestasi

- Hadapi Bonus Demografi, Ketua OSIS dari 28 Provinsi Dibekali Pelatihan Kepemimpinan 21/8/2024 20:59 Pada 2045, Indonesia akan dikaruniai berkah berupa bonus demografi yakni mayoritas rakyat berada pada usia produktif.

- Ini Dua Contoh Proposal Kegiatan Sekolah Class Meeting 19/12/2023 11:15 Selama class meeting, berbagai kegiatan seperti perlombaan olahraga atau kegiatan non-olahraga dapat diadakan untuk menambah keceriaan acara.

- Alasan Masuk OSIS, Ini Motivasi dan Manfaatnya Bagi Pelajar 18/10/2023 11:55 Berikut motivasi dan manfaat pelajar bergabung dalam OSIS.

Artikel terkait

Rekomendasi