Joan Laporta Protes Kepemimpinan Wasit Usai Barcelona Gugur

Joan Laporta Protes Kepemimpinan Wasit Usai Barcelona Gugur
Foto: Ilustrasi Joan Laporta Protes Kepemimpinan Wasit Usai Barcelona Gugur.

Presiden Barcelona Joan Laporta melayangkan kritik keras terhadap kinerja wasit setelah timnya tersingkir dari babak perempat final Liga Champions pada Rabu (15/4) dini hari WIB. Kekalahan agregat 2-3 dari Atletico Madrid memicu amarah pihak manajemen klub asal Catalan tersebut.

Kekalahan tipis 1-2 pada leg kedua di Wanda Metropolitano memastikan langkah Barcelona terhenti, sebagaimana dilansir dari Detik Sport. Pertandingan tersebut diwarnai kartu merah Eric Garcia, menyusul pengusiran Pau Cubarsi pada pertemuan pertama pekan sebelumnya.

Joan Laporta menegaskan ketidakpuasannya terhadap kepemimpinan wasit Istvan Kovacs dan Clement Turpin yang bertugas dalam dua laga tersebut. Ia menilai keputusan pengadil lapangan sangat merugikan peluang timnya untuk melaju ke semifinal.

"Pertama-tama, selamat kepada Atl├®tico atas lolosnya ke semifinal, tetapi itu tidak mengurangi fakta bahwa wasitnya memalukan," kata Laporta, Presiden Barcelona.

Pria berusia 63 tahun tersebut menyoroti insiden penalti yang diabaikan dan kartu merah Pau Cubarsi pada leg pertama. Menurutnya, pelanggaran terhadap Giuliano Simeone tidak seharusnya berujung pengusiran pemain.

"Ini tidak dapat diterima. Setelah di leg pertama, kami tidak diberi penalti (untuk handball Marc Pubill) dan (Pau Cubarsí) juga diusir padahal seharusnya hanya diberi kartu kuning karena Giuliano tidak menguasai bola," ujar Laporta, Presiden Barcelona.

Intervensi teknologi VAR menjadi poin keberatan lainnya bagi pihak Barcelona karena dinilai mengubah keputusan awal wasit secara drastis. Laporta menganggap perubahan kartu tersebut menghancurkan momentum permainan anak asuh Xavi Hernandez.

"Wasit membuat keputusan yang tepat dengan memberi kartu kuning pada awalnya, tetapi VAR menuntut kartu merah yang benar-benar merusak peluang kami. Keputusan wasit telah berdampak besar pada pertandingan ini. Pada leg kedua, situasinya sama saja," kecam Laporta, Presiden Barcelona.

Terkait pengusiran Eric Garcia di Madrid, Laporta berargumen bahwa pemainnya bukan orang terakhir di lini pertahanan. Ia menilai posisi Jules Kounde masih memungkinkan untuk menjangkau bola sebelum pelanggaran terjadi.

"Untuk kartu merah Eric, Jules Kounde bisa saja mencapai bola, jadi Eric bukan pemain terakhir. Wasit sudah mengeluarkan kartu kuning dan VAR kembali campur tangan," kata Laporta, Presiden Barcelona.

Selain masalah kartu merah, sang presiden juga merinci sejumlah kejadian di lapangan seperti gol Ferran yang dianulir dan pelanggaran keras terhadap Fermin Lopez. Ia merasa standar keadilan tidak diterapkan secara merata oleh wasit Turpin.

"Gol Ferran [yang dianulir karena offside] juga seharusnya sah. Ada penalti juga terhadap Dani Olmo, dan permainan keras terhadap Fermín tidak dapat diterima. Bibirnya benar-benar robek. Bahkan tidak ada kartu kuning! Ini tidak dapat diterima," kata Laporta, Presiden Barcelona.

Barcelona berencana melakukan langkah formal sebagai bentuk protes kepada otoritas sepak bola Eropa. Upaya ini merupakan lanjutan dari pengaduan sebelumnya yang sempat mendapatkan respons tidak memuaskan dari pihak UEFA.

"Kami mengajukan protes setelah leg pertama dan UEFA mengatakan 'tidak dapat diterima.' Kami akan meminta penjelasan lebih lanjut. Klub juga akan mengajukan protes lagi, karena yang tidak dapat diterima adalah apa yang terjadi pada kami pada hari Selasa sekali lagi," kata Laporta, Presiden Barcelona.

Artikel terkait

Rekomendasi