Kiesha Alvaro Perankan Rockstar dalam Film Shaka Oh Shaka

Kiesha Alvaro Perankan Rockstar dalam Film Shaka Oh Shaka
Foto: Ilustrasi Kiesha Alvaro Perankan Rockstar dalam Film Shaka Oh Shaka.

Aktor Kiesha Alvaro memerankan karakter musisi rockstar bernama Shaka Antares dalam film Shaka Oh Shaka yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 7 Mei 2026. Dilansir dari Suara, produksi arahan sutradara Dinna Jasanti ini merupakan adaptasi dari kisah Alternative Universe (AU) populer karya Jocelyn Suherman.

Kiesha mengungkapkan bahwa dirinya menjadikan sang ayah, Pasha Ungu, sebagai inspirasi utama untuk mendalami peran tersebut. Pengalaman mendampingi ayahnya saat tampil di atas panggung memberikan referensi langsung mengenai wibawa seorang musisi besar tanpa perlu melakukan riset tambahan yang rumit.

"Kalau ngomongin riset soal menjadi rockstar, kayaknya enggak perlu riset. Saya bisa melihat langsung wibawa beliau aja sih selama ini dibangun karena kan aku emang sering nemenin ayahku manggung juga. Jadi tinggal melihat dia bersikap aja," kata Kiesha dalam konferensi pers yang digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis, 30 April 2026.

Karakter Shaka digambarkan memiliki perkembangan sifat yang semakin egois seiring bertambahnya usia dalam alur cerita film. Kiesha menyebut sosok yang dimainkannya tersebut memiliki kecenderungan sifat yang menyebalkan dalam hubungannya dengan karakter Ocel.

"Semakin berjalannya hubungan Shaka sama Ocel, ketika saya lagi syutingnya pun, semakin ngerasa makin nyebelin tiap tahunnya. Semakin tahun semakin manchild," keluh Kiesha.

Lawan main Kiesha, Arla Ailani, yang berperan sebagai Ocel memberikan tanggapan mengenai sifat karakter kekasihnya tersebut. Ocel digambarkan sebagai sosok yang harus menghadapi sikap keras kepala dari Shaka.

"Makasih udah sadar kalau kamu itu manchild, kalau kamu itu keras kepala, egois, selalu sepihak. Aku cuma berharap kamu tetap ada di sini, dan mungkin aku bakal berusaha jadi lebih baik lagi buat kamu," timpal Arla mengomentari sifat tokoh yang menjadi kekasihnya di dalam film.

Arla Ailani sendiri mengaku mengalami tantangan fisik dan mental yang berat karena perbedaan kepribadian dengan tokoh Ocel yang ekstrovert. Ia bahkan sempat mengalami reaksi fisik yang ekstrem akibat ketegangan saat menjalani proses pengambilan gambar.

"Aku tuh awal terima job ini dan menjadi Ocel, deg-degan banget karena aku tahu ini karakter yang sangat jauh dari aku sehari-hari. Bahkan ada satu kali pas kelar take, Kiesha bilang 'good job', terus dia ngajak high-five, aku mau pingsan," kata Arla Ailani.

Meskipun awalnya merasa kewalahan, Arla akhirnya menemukan keterikatan emosional dengan karakter Ocel yang pernah mengidolakan seseorang secara mendalam. Ia merasa karakter ini membangkitkan kembali sisi dirinya di masa lalu.

"Setelah selesai proses syuting, aku menyadari satu hal. Ternyata tuh aku pernah menjadi Ocel. Jadi Ocel adalah mungkin Arla bertahun-tahun lalu yang aku udah lama banget enggak ketemu, tiba-tiba aku ketemu lagi versi dewasanya," tutur Arla.

Keterikatan tersebut membuat Arla merasa berat saat harus berpisah dengan karakter yang dimainkannya setelah proses produksi berakhir. Kesedihan muncul di hari terakhir syuting karena rasa rindu pada karakter Ocel.

"Pas udah selesai tuh rasanya kangen banget, aku pulang syuting hari terakhir nangis karena belum ngerasa bisa ngelepasin karakter Ocel," tambahnya.

Aspek musikalitas menjadi pilar penting dalam film ini, di mana penata musik Haryo Pati mengedepankan rekaman suara vokal yang natural. Ia memberikan apresiasi khusus pada kemampuan Arla Ailani dalam menyampaikan emosi melalui lagu tanpa banyak penyuntingan teknis.

"Kalau dengar lagu aslinya Ocel, waktu rekaman itu enggak diedit, pitch-nya enggak dibenerin sama sekali. Emosi dia dapat banget dari lagunya. Cuma dua kali atau tiga kali take, langsung dapat," puji Haryo.

Aktris senior Artika Sari Devi juga terlibat dalam film berdurasi dua jam tiga menit ini sebagai Mama Rosa. Ia menjelaskan bahwa perannya mewakili realitas seorang ibu tunggal yang memiliki ambisi besar terhadap karier anaknya di industri hiburan.

"Kalau enggak ada ibu-ibu yang melihat potensi anak seperti ini dan punya kegigihan walaupun kadang terlihat penuh controlling, enggak akan lahir bintang," jelas Artika memberikan sudut pandang.

Produser StarVision Plus, Chand Parwez Servia, menegaskan bahwa film ini dirancang untuk memberikan pengalaman menonton yang serupa dengan menghadiri konser musik. Ia berharap kisah asmara yang diangkat dapat menjadi referensi bagi penonton yang sedang merasakan jatuh cinta.

"Menurut saya ini adalah sebuah kisah yang bisa menjadi referensi untuk kalian yang sedang jatuh cinta, yang akan jatuh cinta, yang pernah jatuh cinta. Kapan lagi nonton film berasa konser? Kami berusaha untuk membuatnya sekompak mungkin," kata Parwez.

Artikel terkait

Rekomendasi