JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Tata Kota dari Universitas Indonesia (UI), Muh Azis Muslim menilai kerja sama antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dan Kota Milan, Italia, bisa menjadi kesempatan bagi Jakarta untuk belajar soal penataan ruang publik hingga ketahanan pangan di perkotaan.
Menurut Azis, ada sejumlah kebijakan di Milan yang bisa ditiru dan disesuaikan dengan kondisi Jakarta, salah satunya terkait pengelolaan ruang publik dan urban farming.
ÔÇ£Ada beberapa hal yang memang bisa kita belajar dari Milan itu terkait dengan misalnya pengaturan pangan kota secara sistemik ya,ÔÇØ ucap Azis saat dihubungi Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
Menurut dia, Milan tidak hanya dikenal lewat industri fesyen dan ekonomi kreatifnya, tetapi juga karena sistem tata kotanya yang dinilai baik.
Ia mencontohkan, Milan memiliki Dewan Pangan Kota yang melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah, akademisi, swasta, NGO, hingga petani dalam menyusun kebijakan ketahanan pangan.
Azas menilai konsep tersebut menarik untuk diterapkan di Jakarta.
Apalagi Jakarta saat ini masih menghadapi persoalan sampah dan keterbatasan ruang terbuka di ibu kota.
ÔÇ£Nah ini menarik karena Jakarta saat ini menghadapi persoalan sampah. Program pengurangan food waste dan urban farming seperti di Milan bisa diadopsi,ÔÇØ ujarnya.
Selain itu, Milan juga dinilai berhasil mengubah kawasan bekas industri atau pabrik yang sudah tidak beroperasi menjadi ruang publik yang dimanfaatkan masyarakat.
Menurut Azis, konsep urban regeneration semacam itu bisa diterapkan di Jakarta.
Dengan begitu, warga memiliki ruang yang cukup untuk bersosialisasi sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.
Azis menilai keberadaan ruang publik bukan hanya untuk aktivitas ekonomi dan seni budaya, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial hingga tempat warga melepas penat dari kepadatan kota.
ÔÇ£Ketika belajar di Milan bagaimana memanfaatkan berbagai macam kawasan-kawasan yang tidak lagi beroperasi tidak lagi beraktivitas Itu bisa dimanfaatkan menjadi ruang-ruang publik yang memang menjadi salah satu sentra kegiatan masyarakat dan juga menjadi aktivitas ekonomi yang berkembang,ÔÇØ katanya.
Lebih lanjut, Azas menilai kolaborasi budaya internasional seperti yang dilakukan Jakarta dan Milan menjadi langkah positif untuk mendukung posisi Jakarta sebagai kota global.
Namun, ia menekankan bahwa konsep kota global tidak cukup hanya ditopang gedung tinggi dan infrastruktur modern.
ÔÇ£Kota global juga harus punya identitas budaya yang kuat. Budaya menjadi pembeda sekaligus kekuatan soft power sebuah kota,ÔÇØ kata dia.
Azis menilai Jakarta memiliki modal besar karena menjadi tempat bertemunya beragam budaya dan etnis dari berbagai daerah di Indonesia.
Karena itu, menurut dia, ruang publik berbasis seni dan budaya perlu terus diperbanyak agar identitas Jakarta semakin kuat.
Ia juga mengingatkan agar kerja sama antara Jakarta dan Milan tidak berhenti sebatas seremoni atau kunjungan semata.
Pemprov DKI perlu menyiapkan rencana kerja yang jelas serta melibatkan pelaku ekonomi kreatif, akademisi, hingga komunitas agar hasil kerja sama dapat dirasakan masyarakat.
ÔÇ£Libatkan para pelakunya. Jadi tidak hanya pejabatnya saja yang hadir di sana, tapi para pelaku usaha, pihak-pihak yang berkaitan dengan rencana-rencana yang memang mau diadopsi atau mau dikerjasamakan,ÔÇØ tutur Azis.
Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengikuti Leadership Exchange Programme JakartaÔÇôMilan yang difasilitasi World Cities Culture Forum pada 9-16 Mei 2026.
Dalam program tersebut, Jakarta dan Milan bertukar pengalaman terkait pengembangan kebijakan budaya, seni publik, pengelolaan ruang kota, hingga ketahanan pangan perkotaan.
Rano mengatakan, Jakarta ingin belajar dari kota-kota dunia yang berhasil membuat seni dan budaya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
ÔÇ£Jakarta ingin menghadirkan ruang publik yang hidup melalui seni dan budaya, sekaligus membuka ruang kolaborasi kreatif bagi masyarakat dan seniman Jakarta. Kota global bukan hanya soal gedung tinggi dan infrastruktur modern, tetapi juga tentang bagaimana masyarakatnya memiliki ruang untuk berekspresi, berinteraksi, dan merasa bangga terhadap identitas kotanya,ÔÇØ kata Rano.