Polemik kewarganegaraan pemain Timnas Indonesia Dean James memicu ancaman pengulangan 133 pertandingan di Liga Belanda setelah keabsahan statusnya dipertanyakan oleh NAC Breda. Kasus yang dikenal sebagai paspoortgate ini mencuat usai laga antara Go Ahead Eagles melawan NAC Breda pada 15 Maret silam, sebagaimana dilansir dari Bola.
Dean James dianggap tidak memiliki izin kerja yang sah untuk bermain di Eredivisie karena status kewarganegaraannya. Sebagai pemegang paspor WNI sejak Maret 2025, ia masuk kategori pemain Non-Uni Eropa yang wajib menerima gaji di atas 600 ribu euro, namun upahnya di Go Ahead Eagles berada di bawah nominal tersebut.
Klub asal James masih menganggap sang pemain memiliki paspor Belanda, padahal negara tersebut tidak menganut sistem kewarganegaraan ganda. James mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui adanya permasalahan administratif ini sampai pihak manajemen klub memberikan informasi secara langsung.
"Direktur klub Jan Willem van Dop memanggil saya dari gym. Dia mengatakan bahwa NAC ingin mengajukan protes, saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi," kata James.
Persoalan ini turut menyeret pemain berdarah Indonesia lainnya seperti Justin Hubner dari Fortuna Sittard, Nathan Tjoe-A-On di Willem II, dan Tim Geypens di FC Emmen. ESPN melaporkan sekitar 25 pemain terdampak polemik ini, termasuk para penggawa yang memiliki garis keturunan Suriname.
Justin Hubner menyatakan ketidaktahuannya mengenai kerumitan aturan paspor yang saat ini tengah dipermasalahkan oleh pihak lawan di liga.
"Kami hanya bermain untuk negara kami dan tidak mengetahui hal lain di luar itu," kata Justin Hubner.
Federasi sepak bola Belanda (KNVB) saat ini tengah menghadapi gugatan hukum meski sebelumnya telah menolak permintaan NAC Breda untuk mengulang pertandingan. Keputusan akhir pengadilan di Utrecht yang dijadwalkan pada Senin (4/5/2026) akan menjadi penentu kelanjutan kompetisi musim ini.
Direktur KNVB Marianne van Leeuwen mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi kekacauan jika pengadilan memenangkan tuntutan NAC Breda dalam proses hukum tersebut.
"Ini bisa berjalan ke banyak arah yang berbeda," kata Marianne van Leeuwen.
Pihak federasi memprediksi tuntutan serupa akan bermunculan dari klub lain jika keberatan awal dikabulkan oleh hakim.
"Kami percaya ini akan menyebabkan kekacauan karena banyak klub lain telah mengajukan klaim dan jika pengadilan memutuskan mendukung NAC, mereka juga akan mengajukan pengaduan dan memulai proses hukum singkat," tutur Marianne van Leeuwen.
Potensi terhentinya liga menjadi ancaman nyata bagi otoritas sepak bola Belanda jika jadwal pertandingan terganggu secara masif.
"Dalam hal itu, mungkin tidak mungkin untuk menyelesaikan musim liga," tutur Marianne van Leeuwen.
Kekecewaan juga datang dari internal klub terkait kurangnya sosialisasi aturan dari otoritas liga dalam dua tahun terakhir. Manajer umum NEC Nijmegen Wilco van Schaik menegaskan bahwa klub selama ini bertindak dengan itikad baik tanpa ada peringatan resmi.
"Tidak satu pun lembaga pemerintah yang mengatakan apa pun tentang hal itu dalam dua tahun terakhir," kata Wilco van Schaik.
Ia meluapkan kemarahannya karena tidak ada surat pemberitahuan mengenai perubahan status atau kewajiban administrasi terkait pemain asing tersebut.
"Mereka tidak mengirimkan surat kepada kami, baik KNVB maupun Eredivisie. Saya sangat marah tentang hal itu. Kita semua bertindak dengan itikad baik," ucap Wilco van Schaik.
Di tengah ketidakpastian hukum, beberapa pemain mulai mendapatkan izin bermain sementara melalui cap khusus di paspor mereka. Salah satunya adalah pesepak bola Suriname, Tjaronn Chery, yang sudah kembali memperkuat timnya di kompetisi domestik.
Namun, pemain lain seperti Etienne Vaessen masih menunggu kejelasan status dan berharap ada solusi regulasi yang memungkinkan mereka tetap memegang status kewarganegaraan Belanda demi karier klub.
"Saya ingin mendapatkan kembali kewarganegaraan Belanda, tetapi juga tetap ingin bermain untuk Suriname, jalan tengah harus ditemukan," ujar Etienne Vaessen.