Aktor Iqbaal Ramadhan merambah peran baru sebagai produser eksekutif dalam film horor fantasi bertajuk Monster Pabrik Rambut yang dijadwalkan tayang pada 4 Juni 2026. Proyek ini mengangkat keresahan universal mengenai tekanan lingkungan kerja yang dialami oleh para buruh.
Keterlibatan Iqbaal dalam film ini tidak hanya di balik layar, tetapi ia juga memerankan karakter Bona, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Cerita ini terinspirasi dari dinamika hubungan antara atasan dan bawahan serta kompetisi antarpekan di lingkungan profesional.
"Situasi-situasi horor itu sangat mungkin terjadi. Bisa dengan atasan yang killer, kolega yang saling 'menusuk dari belakang', atau ekspektasi berlebih sampai mengorbankan kesehatan mental dan fisik kita," ujar Iqbaal Ramadhan.
Gagasan utama film ini dianggap relevan dengan berbagai sektor pekerjaan sehingga dinilai layak untuk disajikan kepada khalayak luas. Iqbaal menekankan pentingnya mengangkat topik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
"Berangkat dari situ, ngerasa ini topik yang bisa diberikan kepada penonton Indonesia," lanjut Iqbaal.
Mantan aktor cilik ini memproyeksikan karyanya sebagai sarana refleksi bagi para penonton mengenai pesan mendalam yang tersirat di balik kemasan genre horor fantasi.
"Semoga bisa jadi karya horor fantasi yang juga 'ajaib', yang bikin orang bertanya: 'Apa sih yang gue dapat dari film ini?' Karena walaupun dibungkus horor, ada pesan yang menurut saya sangat dalam," jelas Iqbaal.
Dalam narasi film, tokoh Bona yang dimainkan Iqbaal memiliki keunikan fisik yang menjadi kunci dalam menyingkap kejanggalan di tempat kerja kakak-kakaknya.
"Dia punya kemampuan regeneratif yang jadi petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi di pabrik itu. Ia membantu menginvestigasi siapa sebenarnya Mariati dengan segala keajaiban yang dia punya," tambah Iqbaal.
Film yang memiliki judul internasional Sleep No More ini sebelumnya telah diputar di Festival Film Berlin atau Berlinale. Iqbaal mengungkapkan rasa terkejutnya saat mengetahui bahwa isu eksploitasi kerja memiliki resonansi kuat di tingkat global.
"Saya kaget, ternyata responsnya mereka punya kedekatan yang sama. Walaupun kulturnya berbeda, tapi perasaan soal kerja keras, lembur, sampai mempertanyakan 'ini gue kerja buat apa?' itu sama," kata Iqbaal.
Fenomena hubungan toksik antara karyawan dan pemimpin perusahaan ternyata tidak hanya terbatas pada konteks lokal di Indonesia saja.
"Kita pikir cuma di Indonesia aja, ternyata di Eropa pun sama," ujar Iqbaal.
Keputusannya mengambil posisi produser eksekutif juga didasari oleh perjalanan karier pribadinya yang telah dimulai sejak usia dini di industri hiburan.
"Saya pribadi bekerja dari umur 9 tahun. Saya nggak mau bilang semua pekerjaan saya ideal," ungkap Iqbaal.
Pemeran Bona ini mengakui bahwa ia sempat melewati masa-masa sulit selama bekerja namun memilih untuk tetap menghadapinya dengan sikap pasrah.
"Ada hal-hal yang tidak mengenakkan tapi ya sudah, 'terima aja, legowo'," kata Iqbaal.
Ia juga menyoroti bagaimana rekan-rekan di sekitarnya kerap menghadapi intimidasi saat mencoba bersikap kritis atau menyuarakan fakta di lingkungan kerja.
"Teman-teman saya di berbagai bidang juga merasakan hal yang sama. Bahkan ada yang mendapat tekanan karena menyampaikan kebenaran," lanjut Iqbaal.
Melalui karya ini, tim produksi berupaya membangun rasa empati dari penonton yang merasakan tekanan serupa di dunia nyata.
"Harapannya film ini bisa membuka ruang diskusi. 'Gue ngerti perasaannya'-itu yang pengen kita capai," tutup Iqbaal.
Monster Pabrik Rambut mengikuti perjalanan Putri yang diperankan Rachel Amanda dan Ida yang diperankan Lutesha dalam mengungkap misteri kematian ibu mereka. Bona sebagai adik bungsu turut terjebak dalam bahaya akibat kemampuan regeneratif yang ia miliki.