Tim bulu tangkis putra Indonesia dipastikan gagal melaju ke fase gugur Thomas Cup 2026 setelah menderita kekalahan telak 1-4 dari Prancis dalam pertandingan terakhir Grup D di Forum Horsens, Denmark, Selasa (28/4/2026). Kegagalan menembus babak perempat final ini menjadi salah satu catatan terburuk sepanjang sejarah partisipasi skuad Merah Putih di turnamen tersebut.
Hasil minor ini mempertegas kesulitan yang dihadapi Indonesia sejak partai pembuka, di mana tiga pemain tunggal putra andalan harus mengakui keunggulan lawan. Dilansir dari Detik Sport, kekalahan dimulai saat Jonatan Christie takluk dari Christo Popov, disusul kekalahan Alwi Farhan dari Alex Lanier, serta Anthony Sinisuka Ginting yang menyerah pada Toma Junior Popov.
Pelatih tunggal putra pelatnas, Indra Widjaja, memberikan pandangannya terkait peta kekuatan tim sebelum laga penentuan tersebut dimulai.
"Sama lah (peta kekuatan) saya rasa 50-50. Taruhlah, misalnya, Jonatan-Christo (Christo Popov) juga sama, Alwi-Alex (Alex Lanier) atau yang ketiganya Popov (Toma Junior Popov) dengan Ginting atau Popov, dengan Ubed juga belum pernah ketemu. Saya rasa tinggal nanti kesiapan anak-anak," kata Indra.
Kekalahan pada laga krusial ini juga memberikan dampak psikologis bagi para pemain muda. Alwi Farhan yang turun sebagai salah satu tumpuan mengakui adanya beban mental saat harus bertanding demi mengamankan kemenangan tim.
"Karena memang sekarang posisinya kami juga membutuhkan kemenangan, rasa itu cukup menghantui saya. Dan saya lebih merasakan pressure," kata Alwi.
Di sisi lain, Anthony Sinisuka Ginting yang melakoni laga sengit hingga tiga gim menjelaskan faktor teknis yang menjadi penyebab kegagalannya menyumbang poin bagi Indonesia.
"Kuncinya di gim kedua ketika Toma mulai mengubah pola permainan dan saya ikut masuk ke pola permainan dia. Lalu di gim ketiga bisa menemukan ritme lagi, sempat unggul di interval." ujar Ginting.
Pemain kelahiran Cimahi tersebut menambahkan bahwa kondisi fisiknya sempat mengalami gangguan di pengujung pertandingan ketiga meski lawannya pun terlihat menunjukkan gejala gugup.
"Tapi ya menjelang akhir ada keserimpet yang membuat kakinya sedikit kram. Kendala yang dirasakan itu coba tidak dirasakan, terus coba karena saya melihat masih ada kesempatan. Dia pun terlihat ada tegang dengan beberapa kali melakukan kesalahan sendiri," dia mengungkapkan.
Ginting mengakui keterbatasan variasi strategi yang diterapkannya pada momen-momen kritis membuat lawan mampu mengambil kendali permainan kembali.
"Tapi memang tidak banyak pilihan pola permainan yang bisa saya mainkan jadi ketika dia kembali menemukan ketenangannya, saya mulai kesulitan dengan banyak harus berlari mengejar bola," ujar Ginting.
| Partai | Pertandingan | Skor |
|---|---|---|
| Tunggal 1 | Jonatan Christie vs Christo Popov | 19-21, 14-21 |
| Tunggal 2 | Alwi Farhan vs Alex Lanier | 16-21, 19-21 |
| Tunggal 3 | Anthony Sinisuka Ginting vs Toma Junior Popov | 22-20, 15-21, 20-22 |