Aktris dan aktivis keturunan Quechua-Huachipaeri, Q'orianka Kilcher, mengajukan gugatan hukum terhadap sutradara James Cameron, Disney, dan Lightstorm Entertainment di Pengadilan Distrik Amerika Serikat. Gugatan tersebut dilayangkan atas tuduhan pencurian identitas biometrik secara industri terhadap fitur wajah Kilcher untuk menciptakan karakter Neytiri dalam waralaba film Avatar.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, Kilcher mengklaim kemiripan wajahnya diambil dari foto promosi film The New World pada 2005 saat dirinya masih berusia 14 tahun. Pihak penggugat menegaskan bahwa struktur dasar serta proporsi wajah karakter Na'vi tersebut diekstraksi tanpa izin maupun kompensasi finansial meskipun karakter tersebut diperankan Zoe Salda├▒a melalui teknologi pemindaian gerak.
Dasar hukum gugatan ini diperkuat oleh pengakuan James Cameron sendiri dalam sebuah wawancara pada tahun 2024 melalui kanal YouTube Konbini. Dalam video tersebut, Cameron menunjukkan sketsa awal Neytiri yang diakuinya bersumber dari foto Kilcher di media harian Los Angeles Times.
"Sumber untuk [sketsa] ini adalah sebuah foto yang ada di L.A. Times sebagai bagian dari promosi 'The New World'. Dia adalah aktris muda bernama Q'orianka Kilcher," ujar Cameron, sutradara film Avatar.
Sutradara tersebut juga memberikan rincian teknis mengenai bagian wajah yang ia gunakan sebagai inspirasi desain karakter utama tersebut.
"Ini sebenarnya adalah bagian bawah wajahnya. Dia memiliki wajah yang sangat menarik," kata Cameron.
Selain pernyataan video, dokumen gugatan mengungkap adanya bukti fisik berupa cetakan sketsa Neytiri yang ditandatangani langsung oleh Cameron untuk Kilcher. Pesan pada bingkai tersebut menyatakan bahwa kecantikan Kilcher merupakan inspirasi awal bagi sang sutradara.
"Kecantikanmu adalah inspirasi awal saya untuk Neytiri. Sayang sekali saat itu kamu sedang syuting film lain. Lain kali ya," tulis Cameron dalam pesan tersebut.
Kilcher menyatakan rasa bingungnya terhadap catatan tersebut dan mengaku tidak pernah menerima tawaran kerja nyata meski telah berupaya menjalin komunikasi profesional. Melalui pengacaranya, Arnold P. Peter, pihak penggugat menyoroti adanya eksploitasi terhadap masyarakat adat di balik kesuksesan finansial film tersebut.
"Hasilnya adalah sebuah waralaba film yang sangat menguntungkan dan mempresentasikan diri seolah-olah bersimpati pada perjuangan masyarakat adat, sementara secara diam-diam mengeksploitasi seorang pemuda Pribumi asli di balik layar," tulis dokumen gugatan tersebut.
Pihak penggugat menuntut ganti rugi atas pelanggaran hak publisitas serta pembagian keuntungan dari pendapatan global waralaba Avatar. Hingga saat ini, pihak Disney, Lightstorm Entertainment, maupun perwakilan James Cameron belum memberikan pernyataan resmi terkait proses hukum yang sedang berjalan.