Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 akan diselenggarakan di 11 kota di Indonesia pada 8 hingga 23 Mei 2026 untuk memperkuat kolaborasi ekonomi kreatif dan industri film antarnegara. Perhelatan tahun ke-11 ini menargetkan pengembangan sektor hilir seperti lisensi dan produk turunan dari karya sinematografi.
Dilansir dari Lifestyle, perluasan jangkauan geografis tahun ini mencakup Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar dan Manado. Pemerintah memandang festival ini sebagai sarana pertukaran pengetahuan guna meningkatkan kapasitas para pelaku industri film nasional dalam menjajaki pasar internasional.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menyatakan bahwa konsistensi festival tersebut mempererat hubungan bilateral. Ia menekankan bahwa film memiliki dampak ekonomi yang jauh melampaui sekadar produk hiburan bagi masyarakat luas.
"Pada saat kita membeli tiket untuk menonton film, itu setara dengan kita melihat promosi yang kemudian mendorong kita untuk konsumsi lanjutan. Dari situ lahir potensi besar seperti licensing dan merchandising," ujar Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif.
Irene menjelaskan bahwa kemandirian industri film tidak boleh hanya bertumpu pada hasil penjualan tiket bioskop semata. Pengembangan Kekayaan Intelektual (IP) yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama untuk meraih nilai ekonomi yang lebih tinggi di kancah global.
"Indonesia memang besar, tetapi pasar dunia jauh lebih besar. Ini yang harus mulai dipikirkan oleh pelaku industri," kata Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif.
Sektor animasi nasional turut menunjukkan taji melalui keberhasilan film Jumbo yang berhasil menembus angka 10 juta penonton pada tahun 2025. Pencapaian ini menempatkan film tersebut dalam jajaran karya terlaris sepanjang masa di pasar domestik.
"Jumbo membuka mata banyak orang mengenai potensi film animasi di Indonesia," ujar Chris Lee, Art Supervisor Jumbo.
Chris Lee menambahkan bahwa keterlibatannya dalam program Australia Awards memberikan wawasan mendalam terkait ekosistem industri di Australia. Hal tersebut mencakup pemahaman mengenai regulasi pendanaan serta kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri film secara komprehensif.
FSAI 2026 dijadwalkan memutar lima film asal Australia dan dua film karya alumni Australia di Indonesia. Selain itu, terdapat empat film pendek karya penerima Australian Alumni Awards yang akan mengisi rangkaian program festival di berbagai kota seperti Kupang, Medan, Banjarmasin, Yogyakarta, dan Semarang.