Film Para Perasuk Raih 118 Ribu Penonton dalam Lima Hari

Film Para Perasuk Raih 118 Ribu Penonton dalam Lima Hari
Foto: Ilustrasi Film Para Perasuk Raih 118 Ribu Penonton dalam Lima Hari.

Film Para Perasuk mencatat angka kunjungan sebanyak 118.466 penonton hingga 27 April 2026. Capaian ini diraih sejak film tersebut resmi meluncur di bioskop seluruh Indonesia pada 23 April 2026.

Jumlah penonton pada periode awal penayangan ini dinilai belum memperlihatkan lonjakan besar. Padahal, film ini didukung oleh deretan aktor populer dan disutradarai oleh sineas berprestasi, Wregas Bhanuteja, dilansir dari Suara.

Karya ini menyajikan kombinasi genre drama dan thriller yang dibalut dengan kritik sosial melalui fenomena kerasukan. Wregas mengambil sudut pandang berbeda dengan menghadirkan tradisi Pesta Sambetan sebagai identitas komunal masyarakat desa.

Alur cerita berpusat pada tokoh Bayu yang diperankan oleh Angga Yunanda. Bayu merupakan pemuda dari Desa Latas yang berupaya keras melindungi tanah kelahirannya dari ancaman penggusuran lahan.

Demi mendapatkan dana, ia berambisi menduduki posisi Perasuk Utama dalam tradisi desa tersebut. Namun, dalam perjalanannya, Bayu mulai memahami bahwa tradisi memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pemuasan ambisi pribadi.

Selain Angga Yunanda, proyek layar lebar ini melibatkan nama-nama besar seperti Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, dan Bryan Domani. Aktor senior Indra Birowo juga turut memperkuat jajaran pemain dengan latar cerita di wilayah pedesaan.

Kritik Pemilihan Pemain

Di balik perolehan angka penonton, film ini memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Banyak pihak memberikan kritik terkait pemilihan aktor yang dinilai kurang merepresentasikan kehidupan masyarakat desa terpencil.

"Selain poster, trailer, dan cerita yang kurang menarik, pemilihan aktornya juga kayak enggak niat. Muka mereka ini terlalu cakep buat jadi orang kampung pedalaman mistis," kritik warganet.

Sorotan tajam salah satunya tertuju pada Maudy Ayunda yang memiliki citra publik sangat kuat sebagai sosok akademisi. Visual para pemain dianggap terlalu modern untuk nuansa mistis yang diusung dalam cerita.

"Apalagi Maudy Ayunda, branding imej beasiswa LPDP-nya kuat banget. Cari aktor barulah yang ngampung banget gitu," lanjutnya.

Sejumlah penonton yang telah menyaksikan langsung mengaku sulit memisahkan citra asli para aktor dengan karakter yang dimainkan. Hal ini dianggap cukup memengaruhi kenyamanan dalam menikmati atmosfer cerita.

"Setuju. Menurutku juga nggak cocok. Yang paling cocok menurutku cuma Chicco Kurniawan doang. Yang lain, maaf nggak banget, lebih cocok jadi geng anak orang kaya," ujarnya.

"Gue udah nonton filmnya dan gue setuju ini. Imej LPDP-nya terngiang-ngiang dan kurang cocok jadi karyawan peternakan," sahut yang lain.

Segmentasi Pasar dan Persaingan

Laju pertumbuhan penonton juga diduga terhambat oleh dominasi film lain yang sedang tayang secara bersamaan. Selain itu, pendekatan artistik film ini dinilai lebih condong ke arah film festival dibandingkan selera pasar luas.

"Pernah dengar di podcast, orang bikin film ada dua, mau buat festival atau buat penonton. Kayaknya film ini dibikin lebih buat film festival," tulisnya.

Wregas Bhanuteja sendiri dikenal memiliki gaya penyutradaraan yang khas dengan fokus pada keresahan personal. Dua film sebelumnya, yakni Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, sukses meraih berbagai penghargaan di Festival Film Indonesia (FFI).

"Dari beberapa podcast-nya Wregas juga jelas, kok, film ini dibuat untuk menggambarkan dirinya ditambah dengan isu kritik sosial," lanjut warganet tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi