Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan lampu hijau bagi tim nasional Iran untuk bertanding di negaranya pada putaran final Piala Dunia 2026 mendatang. Kepastian partisipasi Iran tetap terjaga meskipun sebelumnya muncul ketegangan diplomatik saat delegasi mereka absen dalam Kongres FIFA ke-76 di Vancouver, Kanada, Kamis (30/5/2026).
Dilansir dari Bola, absennya Iran dalam kongres tersebut disebabkan oleh tertahannya para delegasi di bandara selama tiga jam untuk proses interogasi. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, mengungkapkan bahwa rombongannya sebenarnya telah mengantongi izin masuk, namun memilih membatalkan kehadiran karena ketidaknyamanan prosedur keamanan.
Tindakan otoritas perbatasan Kanada tersebut diduga berkaitan dengan status Mehdi Taj yang disebut memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), organisasi yang dilarang di Kanada. Kendati demikian, Taj memberikan klarifikasi resmi mengenai alasan timnya memutuskan untuk kembali ke pangkalan tanpa mengikuti acara resmi FIFA.
"Kami semua memiliki visa dan bahkan diperiksa di Turkiye. Mereka memberi tahu kami bahwa mereka memiliki pertanyaan untuk kami dan bertanya apakah kami anggota IRGC," kata Taj dikutip dari Tasnim.
Taj menambahkan bahwa petugas bandara akhirnya memperbolehkan mereka masuk setelah pemeriksaan intensif, namun pihaknya tetap pada keputusan untuk pergi. Penundaan tanpa alasan yang jelas di bandara menjadi poin keberatan utama yang disampaikan oleh pimpinan federasi sepak bola tersebut.
"Kami memberi tahu mereka bahwa ada 90 juta anggota IRGC di Iran. Mereka mengatakan bahwa kami tidak mengizinkan orang-orang dari organisasi ini masuk. Mereka mengatakan bahwa itu adalah hukum negara kami," ujar Taj.
Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan sempat berusaha memediasi situasi ini dengan menawarkan fasilitas penjemputan khusus agar delegasi Iran tetap hadir di lokasi kongres. Namun, tawaran tersebut tidak mengubah pendirian Iran yang merasa mendapatkan perlakuan tidak adil.
"Setelah beberapa saat, mereka mengatakan Anda boleh masuk, tetapi kami memutuskan untuk kembali," ujar Mehi Taj.
Kekecewaan Iran juga ditujukan kepada struktur internal FIFA yang dinilai terlalu patuh pada tekanan politik tertentu. Taj bahkan secara langsung menyampaikan kritik tersebut melalui komunikasi dengan Sekretariat Jenderal organisasi sepak bola dunia tersebut.
"Mereka tidak mendeportasi kami dan kami memutuskan untuk kembali sendiri. Saya memberi tahu orang Kanada bahwa Anda menahan kami di bandara selama tiga jam, Anda membuat kami menunggu tanpa alasan," tuturnya menjelaskan.
Hingga saat ini, Federasi Sepak Bola Iran masih mengupayakan pertemuan lanjutan untuk menjamin keamanan dan kelancaran tim selama berada di Amerika Utara. Jaminan bebas dari polemik luar lapangan menjadi syarat mutlak bagi partisipasi mereka di turnamen bergengsi tersebut.
"I told the secretary general of FIFA (Mattias Grafstrom) that you are being bullied by America and that you say 'yes, sir' to whatever they say," katanya.
Sikap keras Iran ini muncul di tengah jadwal pertandingan Grup G yang menempatkan mereka bersama Belgia, Selandia Baru, dan Mesir. Seluruh laga babak penyisihan grup Iran dijadwalkan berlangsung sepenuhnya di wilayah Amerika Serikat sesuai ketentuan FIFA.
"Kami perlu mengadakan pertemuan dengan para pejabat FIFA untuk memastikan bahwa jika kami akan datang ke Piala Dunia, tidak akan ada masalah sampingan dan kontroversi bagi tim kami," kata Mehdi Taj soal partisipasi Iran di Piala DUnia 2026.
Presiden Donald Trump sendiri telah menyatakan persetujuannya terhadap rekomendasi Gianni Infantino untuk membiarkan Iran bermain di AS pada Jumat (1/5/2026). Meskipun hubungan diplomatik kedua negara tetap tegang, Trump menegaskan kesiapan AS menyambut delegasi olahraga Iran.
ÔÇ£Jika Gianni mengatakan demikian, saya setuju. Biarkan mereka bermain," ujar Trump dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (1/5/2026).