Dipha Barus Rilis Lagu Nafas Gandeng Hindia sebagai Kolaborator

Dipha Barus Rilis Lagu Nafas Gandeng Hindia sebagai Kolaborator
Foto: Ilustrasi Dipha Barus Rilis Lagu Nafas Gandeng Hindia sebagai Kolaborator.

Produser musik Dipha Barus resmi merilis karya terbaru berjudul Nafas dengan menggandeng musisi Baskara Putra atau yang akrab disapa Hindia pada Minggu (26/4/2026). Kolaborasi ini menyajikan refleksi mengenai cara manusia melanjutkan hidup di tengah dinamika pikiran yang terus bergerak secara repetitif sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Lagu ini dikembangkan dari komposisi musik intuitif milik Dipha Barus yang kemudian direspons oleh Baskara menjadi sebuah narasi tentang siklus keseharian. Aransemen musiknya dirancang untuk memberikan ruang bagi lirik yang menggambarkan perjuangan kecil manusia dalam menjalani rutinitas yang kadang mengganggu.

Baskara Putra menjelaskan bahwa kesan pertama yang muncul saat mendengar demo musik dari Dipha adalah irama yang terasa berulang menyerupai aktivitas olahraga lari.

"Waktu pertama kali dengar demonya, yang terlintas justru rasa repetitifnya, seperti cadence berlari, seperti jogging atau maraton. Dari situ jadi terpikir untuk menulis sesuatu yang juga berulang, tentang keseharian, tentang siklus yang terus terjadi. Bahkan di hari yang terasa baik-baik saja, selalu ada sesuatu yang tetap muncul di belakang, sesuatu yang looming dan tidak pernah benar-benar hilang," ujar Baskara.

Vokalis tersebut kemudian menyusun lirik yang berfokus pada ketangguhan individu dalam menghadapi hambatan-hambatan kecil di kehidupan sehari-hari tanpa bermaksud menggurui pendengar.

"Kalau harus describe Nafas dalam satu kalimat, itu lagu tentang daily struggle saja sebenarnya. Kayak melewati hal-hal kecil yang inconveniently mengganggu hidup, tapi tetap menjalani. Selalu ada hal-hal yang mengganggu, tapi tetap carry on saja. Struggle, tapi tetap lanjut," sambung Baskara.

Selain aspek keseharian, terdapat dimensi personal dalam penulisan lagu ini yang menyentuh isu mengenai pemutusan siklus trauma atau perilaku dari generasi sebelumnya.

"Ada satu bagian yang terasa sangat personal buat saya, tentang memutus sebuah siklus. Kurang lebih tentang menyadari bahwa saya seperti ini mungkin karena orang tua saya, dan orang tua saya seperti itu mungkin karena yang datang sebelum mereka. Tapi itu hanya bisa berhenti kalau saya mengakui hal tersebut dan tidak menyimpan dendam. Itu yang kemudian membuat saya melihat banyak hal dalam hidup saya dengan cara yang berbeda," pungkas Baskara.

Dipha Barus sengaja membangun lanskap produksi yang kontras antara gerak musik yang cepat dengan refleksi emosional untuk menonjolkan karakter vokal Baskara.

"Suara Baskara punya bobot yang sangat spesifik, intim, kayak orang lagi bercerita, bukan hanya menyanyi dalam arti performatif. Tantangannya adalah menjaga suara itu tetap jadi pusat, kayak tuan rumah di dalam rumah yang gue bangun. Produksi di sekelilingnya boleh megah, bergerak cepat, tapi dia yang harus tetap jadi pusatnya," papar Dipha Barus.

Artikel terkait

Rekomendasi