Seniman asal Yogyakarta Dian Suci resmi dinobatkan sebagai pemenang edisi ke-10 Anugerah Max Mara Art Prize for Women dan dijadwalkan menjalani residensi selama enam bulan di Italia. Pengumuman ini disampaikan oleh dewan juri pada Kamis, 7 Mei 2026, bertepatan dengan pembukaan pameran seni La Biennale di Venesia, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Penghargaan yang dikuratori oleh Max Mara, Collezione Maramotti, dan Museum MACAN ini bertujuan memberikan dukungan bagi perupa yang berada di tahap awal maupun pertengahan karier. Dian Suci terpilih melalui proposal bertajuk Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice yang mengeksplorasi hubungan tradisi keagamaan kriya dengan sistem kapitalis.
Presiden Max Mara Fashion Group Luigi Maramotti memberikan apresiasi terhadap proyek yang diusulkan oleh seniman tersebut. Fokus riset Dian Suci yang menghubungkan aspek ritual dengan teknik kriya kuno dinilai sejalan dengan visi penghargaan ini dalam mempertemukan dunia seni dan kerajinan.
"Proyek menjanjikan dari Dian Suci, mengeksplorasi ranah ritual dan gerak, menjalin keduanya dengan teknik kriya kuno dan sejarahnya, dalam dialog berkelanjutan antara Timur dan Barat. Kekayaan tradisi kriya Italia, dalam segala seginya, berada di jantung Max Mara Art Prize, yang juga bertujuan mempertemukan dua dunia yang berbeda namun saling melengkapi, yakni seni dan kriya," tulis Presiden Max Mara Fashion Group Luigi Maramotti.
Direktur Museum MACAN Venus Lau menyoroti latar belakang pendidikan arsitektur Dian Suci yang kemudian bertransformasi menjadi perupa secara otodidak. Ia menilai kemandirian Dian dari institusi seni tradisional menjadi nilai tambah dalam perkembangan suaranya di dunia seni rupa.
"Saya percaya residensi di Italia akan menyediakan kerangka penting baginya untuk memperluas suara artistik ini," ucap Venus Lau, Direktur Museum MACAN.
Menanggapi kemenangan ini, Dian Suci menyatakan bahwa kesempatan riset di Italia merupakan momentum penting untuk mendalami hubungan antara spiritualitas dan proses penciptaan karya. Hal ini menjadi bagian dari pengembangan praktik artistiknya yang selama ini mengangkat isu domestikasi perempuan dan struktur kekuasaan.
"Pengakuan ini memberi saya kesempatan untuk memperluas riset saya antara Indonesia dan Italia, serta untuk belajar dari tradisi dan ritual yang menyimpan spiritualitas dalam tubuh-tubuh yang menciptakan," tegas Dian Suci.
Selama residensi, Dian akan mengunjungi beberapa wilayah di Italia, dimulai dari Assisi di Umbria untuk berinteraksi dengan para biarawan. Perjalanan akan dilanjutkan ke Roma untuk menghadiri misa di Basilika Santo Petrus, kemudian menuju Lecce di Apulia guna mempelajari teknik kriya papier-mache, dan berakhir di Firenze.
Setelah menyelesaikan program residensi bersama Collezione Maramotti, Dian Suci dijadwalkan menggelar pameran tunggal di Museum MACAN pada pertengahan 2027. Karya hasil residensi tersebut kemudian akan dipamerkan di Reggio Emilia, Italia, pada tahun yang sama.