Antoine Griezmann membawa misi besar untuk mencatatkan sejarah baru bagi Atletico Madrid dalam kompetisi kasta tertinggi Eropa. Penyerang asal Prancis tersebut bertekad mengantarkan timnya melaju ke partai puncak Liga Champions musim 2025/2026.
Ambisi besar ini diungkapkan menjelang duel krusial menghadapi Arsenal pada leg kedua babak semifinal. Sebagaimana dilansir dari Suara, pertandingan penentuan tersebut dijadwalkan berlangsung di Emirates Stadium pada hari Selasa mendatang.
Kondisi kedua tim saat ini masih sama kuat setelah bermain imbang 1-1 pada pertemuan pertama di Stadion Metropolitano. Dalam laga tersebut, gol masing-masing dilesakkan oleh Viktor Gyokeres dan Julian Alvarez yang membuat persaingan tetap terbuka lebar.
Pemenang dari pertandingan di London ini sudah ditunggu oleh salah satu dari dua raksasa Eropa lainnya. Tiket final akan diperebutkan untuk menghadapi Paris Saint-Germain atau klub asal Jerman, Bayern Munich.
Griezmann yang saat ini telah menginjak usia 35 tahun memiliki sejarah panjang bersama Los Rojiblancos. Ia merupakan bagian penting dari tim saat berhasil mencapai final Liga Champions pada tahun 2016 silam.
Namun, momen tersebut menyisakan kenangan pahit karena ia gagal mengeksekusi penalti pada waktu normal saat melawan Real Madrid. Meskipun ia berhasil mencetak gol dalam babak adu penalti, Atletico tetap harus menelan kekalahan di akhir laga.
"Saya selalu yakin untuk bertahan di sini karena kami bisa melakukan sesuatu yang luar biasa," ujar Griezmann dilansir dari ESPN.
"Saya tidak pernah ragu. Saya merasa kami bisa menciptakan sesuatu yang bersejarah dengan kembali ke final, dan tim juga merasakannya," imbuhnya.
Kematangan Mental Menuju Final
Sepanjang karier sepak bolanya, Griezmann telah mengoleksi trofi bergengsi seperti Piala Dunia bersama timnas Prancis dan Liga Europa bersama Atletico. Meski begitu, trofi Si Kuping Besar Liga Champions menjadi satu-satunya gelar mayor yang belum pernah ia angkat.
Griezmann mengakui bahwa dirinya kini berada dalam kondisi mental yang jauh lebih stabil dibandingkan sepuluh tahun lalu. Ia merasa pengalamannya di final 2016 memberikan pelajaran berharga mengenai pengelolaan tekanan di atas lapangan.
"Saat itu saya berada di bawah tekanan besar. Semuanya berjalan begitu cepat dan saya tidak tahu bagaimana mengendalikannya," kata Griezmann.
"Kini saya lebih matang dan tenang. Saya menjalani pertandingan dengan lebih santai dan penuh kegembiraan. Tidak semua pemain mendapat kesempatan bermain di semifinal Liga Champions. Kami bisa membuat sejarah," tuturnya menutup.