Aktor asal China, Zhang Xiaolei, memutuskan beralih profesi menjadi petani cabai di Provinsi Qinghai setelah karier aktingnya terdampak oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pria berusia 28 tahun tersebut mulai menggarap lahan pertanian sejak Maret guna menyambung hidup usai kehilangan banyak tawaran peran di industri miniseri.
Dilansir dari Wolipop, transformasi industri miniseri yang mulai menggunakan karakter virtual berbasis AI telah mengurangi kebutuhan akan aktor manusia secara signifikan. Zhang, yang sebelumnya telah membintangi lebih dari 200 drama pendek, kini hanya menerima satu tawaran pekerjaan dengan nilai kontrak yang merosot hingga setengah dari tahun sebelumnya.
Selama berkarier, Zhang Xiaolei identik dengan peran tokoh pria dominan atau ba zong, yang mencakup 70 persen dari total produksinya. Namun, penurunan permintaan pasar membuatnya memilih menginvestasikan dana sebesar 400.000 yuan atau sekitar Rp 1 miliar untuk perkebunan di Haidong, lokasi di mana ia memanfaatkan keahlian bertani dari orang tuanya.
Zhang membagikan keluh kesahnya mengenai realitas kehidupan yang jauh berbeda antara dunia peran dengan kondisi ekonominya saat ini melalui media sosial.
"Pekerjaan penuh waktuku adalah menanam cabai dan menjualnya di jalanan. Jika ada kesempatan berakting, saya akan melakukannya. Jika tidak, aku hanya akan menjadi petani. Aku menampar orang saat berakting, tetapi aku ditampar oleh kenyataan," kata Zhang Xiaolei.
Mantan aktor ini mengakui adanya perbedaan mencolok dalam hal finansial dibandingkan saat ia masih aktif berada di puncak masa keemasan industri miniseri.
"Dalam drama, aku memiliki banyak uang. Tetapi dalam kenyataan, saya akan kesal jika pelanggan lupa membayar saya 10 yuan (Rp 25 ribuan)," ujar Zhang Xiaolei.
Meski harus berjualan hasil panen seharga 4 yuan per kilogram di pasar pedesaan, Zhang tetap berupaya mensyukuri kondisinya dan optimis dalam menghadapi tantangan hidup.
"Hidup penuh dengan suka dan duka. Aku masih percaya bahwa pada akhirnya aku dapat mengatasi kesulitan-kesulitan ini," pungkas Zhang Xiaolei.