Rumah produksi MVP Pictures bekerja sama dengan Diary Misteri Sara (DMS) mengadaptasi episode populer YouTube ke layar lebar melalui film horor bertajuk Cerita Lila. Dilansir dari Detik Hot, film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Juni 2026 ini menghadirkan kisah emosional berdasarkan penelusuran fenomenal Sara Wijayanto.
Kisah tersebut sebelumnya telah menarik perhatian publik dengan catatan lebih dari 11 juta penonton di kanal YouTube DMS. Produksi film ini bertujuan memberikan pendekatan yang lebih sinematik dan mendalam terhadap narasi yang telah dikenal luas oleh para penggemar konten misteri tersebut.
Sara Wijayanto selaku pengisi konten asli menyatakan bahwa pengalaman dalam penelusuran ini merupakan salah satu momen yang paling berbekas baginya. Ia menegaskan bahwa terdapat dimensi emosional yang kuat di balik kejadian mistis yang terekam dalam cerita tersebut.
"Dari sekian banyak penelusuran yang pernah saya jalani, Cerita Lila adalah salah satu yang paling sulit untuk saya lupakan. Ada rasa kehilangan yang sangat dalam, yang tidak hanya terasa secara spiritual, tapi juga emosional. Kisah ini bukan sekadar tentang hal-hal mistis, tapi tentang hubungan, tentang keluarga, dan tentang luka yang belum sempat sembuh. Saya berharap versi filmnya bisa menyampaikan perasaan yang sama bahkan mungkin lebih dalam kepada penonton," ungkap Sara dalam peluncuran poster dan trailer di Kota Kasablanka, kemarin.
Aktris Shareefa Daanish dipercaya untuk memerankan karakter hantu dalam produksi ini. Meski kerap tampil dalam genre horor, ia mengungkapkan fakta personal mengenai sifat aslinya yang berbeda dengan karakter yang ia mainkan di layar kaca.
"Sebenarnya itu kalau misalnya yang suka mungkin udah pernah dengar interview, kalau saya tuh sebenarnya karakternya orangnya penakut. Terus saat dikasih peran untuk jadi hantu atau jadi setan, salah satu yang bikin saya mau itu karena saya bisa menakut-nakuti orang," kata Shareefa.
Pemeran spesialis horor ini juga menanggapi persepsi publik yang identik dengan peran-peran menyeramkan. Ia mengapresiasi kepercayaan yang diberikan oleh pihak produser dan sutradara untuk kembali memerankan sosok makhluk halus.
"Padahal penakut ya, tapi nakut-nakutin orang ya enak ya. Jadi kalau dikasih kepercayaan itu, orang suka berharap saya untuk memerankan hantu lagi ya terima kasih atas kepercayaannya. Jadi saya masih bisa dipercayakan untuk menakut-nakuti kalian semua," lanjutnya.
Guna mendalami perannya sebagai tokoh bernama Rahma, Shareefa melakukan observasi dan mempelajari keterampilan baru. Ia secara khusus belajar menjahit untuk memenuhi kebutuhan adegan spesifik dalam film tersebut.
"Yang paling spesifik untuk karakter ini adalah saya belajar menjahit. Karena nanti ada beberapa adegan karakter Rahma ini akan menjahit. Itu salah satu pertimbangan saya, setiap mengambil karakter harus bisa belajar sesuatu," jelasnya.
Selama proses produksi, Shareefa terlibat kolaborasi aktif dengan pemeran lain, termasuk Lutesha. Ia menilai atmosfer di lokasi syuting sangat kondusif karena adanya ruang diskusi yang terbuka di antara seluruh tim produksi.
"Seru, kami semua dari awal sudah banyak ngobrol. Saya paling suka kalau mengerjakan suatu project, semuanya mau sharing, kasih ide. Proses kolaboratifnya jalan dan nggak ada yang dominan, jadi enak banget," ujarnya.
Aktris Lutesha yang memerankan karakter Tari mengaku terkejut dengan hasil akhir visual yang ditampilkan dalam teaser. Ia menyebutkan bahwa naskah film ini memiliki bobot drama yang cukup berat dibandingkan perkiraan awalnya.
"Perasaannya nggak nyangka, ternyata banyak sekali muka saya yang kesurupan dan aneh-aneh. Tapi ketika pertama kali ditawari skrip ini, saya pikir film horor biasa. Ternyata pas baca, berat banget. Karakter Tari emosinya roller coaster, heavy secara drama," kata Lutesha.
Proses pendalaman karakter dilakukan melalui sesi reading intensif bersama sutradara Bobby Prasetyo. Lutesha mengungkapkan adanya tantangan besar dalam mengelola eskalasi emosi selama pengambilan gambar.
"Ada beberapa adegan yang harus diulang karena eskalasi emosi yang ekstrem. Tapi itu yang bikin seru, kita eksplor terus sama Mas Bobby," tambah Lutesha.
Amrit Punjabi dari MVP Pictures menjelaskan bahwa pengembangan naskah membutuhkan waktu lama guna menyatukan visi dengan Sara Wijayanto. Hal ini melibatkan workshop khusus agar hasil adaptasi mencapai standar maksimal yang diinginkan.
"Kami memilih menunggu hingga cerita ini benar-benar siap untuk diadaptasi secara maksimal," ujarnya.
Sutradara Bobby Prasetyo menegaskan bahwa fokus utama film ini adalah tentang trauma dan luka keluarga. Menurutnya, unsur ketakutan dalam Cerita Lila bersumber dari aspek kemanusiaan yang mendalam.
"Film ini bukan hanya tentang ketakutan, tetapi tentang luka keluarga, trauma yang tertinggal, dan jiwa-jiwa yang belum sempat pulang. Ketakutannya justru datang dari rasa kehilangan yang sangat manusiawi," jelasnya.
Film ini turut didukung oleh jajaran aktor seperti Wafda Saifan, Jovial Da Lopez, dan Aci Resti. Cerita Lila berpusat pada arwah anak bernama Lila yang berusaha mencari saudara kembarnya melalui bantuan seorang anak indigo bernama Nia.