Pemerintah Haiti secara resmi menutup sementara akses ke situs warisan dunia UNESCO, Benteng Citadelle Henry, di Haiti utara mulai Minggu (12/4/2026). Langkah ini diambil setelah sedikitnya 30 orang dilaporkan tewas dalam insiden desak-desakan yang terjadi pada Sabtu (11/4/2026).
Kepala Perlindungan Sipil Departemen Nord, Jean Henri Petit, mengungkapkan bahwa kepadatan pengunjung yang luar biasa menjadi pemicu utama tragedi tersebut sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Puluhan korban luka telah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis segera.
"Pengunjung berdesakan di satu pintu masuk dan terjadi perkelahian antara mereka yang mencoba keluar dan masuk lokasi tersebut," kata Jean Henri Petit, Kepala Perlindungan Sipil Departemen Nord. Ia menambahkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan masih akan bertambah seiring adanya laporan warga yang hilang.
Laporan awal menunjukkan bahwa lonjakan jumlah pengunjung dipicu oleh promosi kegiatan di lokasi tersebut melalui media sosial TikTok yang menarik banyak anak muda. Selain itu, terdapat dugaan penggunaan gas air mata oleh aparat di sekitar benteng untuk membubarkan kerumunan yang justru memicu kepanikan massal.
Menteri Kebudayaan Haiti, Emmanuel Menard, memberikan konfirmasi terkait jumlah korban tewas dan menegaskan bahwa proses pencarian orang hilang terus dilakukan oleh tim penyelamat. Benteng abad ke-19 yang terletak di puncak Gunung Bonnet a l'Eveque tersebut akan tetap ditutup hingga waktu yang belum ditentukan.
Pemerintah Haiti kini menempatkan seluruh otoritas terkait dalam keadaan siaga maksimal untuk memberikan bantuan dan dukungan bagi para korban. Investigasi menyeluruh dan evaluasi standar keamanan sedang berlangsung guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.