Penulis asal Amerika Serikat Elizabeth Gilbert menonjolkan harmoni kuliner dan spiritualitas Bali dalam bukunya yang berjudul Eat, Pray, Love pada Kamis, 16 April 2026. Karya yang dirilis pada 2010 tersebut menggambarkan perjalanan pencarian keseimbangan hidup di Ubud setelah sang penulis mengunjungi Italia dan India.
Pariwisata Bali dalam narasi Gilbert tidak hanya sekadar pemandangan alam, melainkan sebuah pengalaman mendalam yang berakar pada tradisi. Keindahan pulau ini dinilai menjadi fondasi kepercayaan di tengah ketidakpastian dunia, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.
"Di dunia yang penuh kekacauan, bencana, dan penipuan, terkadang hanya keindahan yang dapat dipercaya....Dan terkadang makanan adalah satu-satunya mata uang yang nyata," tulis Elizabeth Gilbert, Penulis Buku Eat, Pray, Love (2010).
Kutipan tersebut mencerminkan filosofi Gilbert mengenai pentingnya aspek fisik dan spiritual dalam kehidupan manusia. Setelah menikmati kuliner di Italia dan mencari ketenangan di India, Bali menjadi lokasi penutup perjalanannya untuk menemukan cinta dan keselarasan batin.
Unsur kuliner di Bali digambarkan memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan Italia yang lebih mengedepankan kelebihan rasa. Di Bali, makanan dipandang sebagai elemen spiritual yang menyatu dengan alam, ingatan kolektif masyarakat, serta berbagai upacara adat yang diselenggarakan penduduk setempat.
Gilbert menceritakan pengalamannya menikmati hidangan seperti sate ayam dan lumpia dengan saus celup mangga di tengah suasana perdesaan. Atmosfer Ubud yang dikelilingi pohon kelapa, nanas, dan hamparan sawah memperkuat rasa syukur atas hidangan segar yang disajikan oleh masyarakat yang ramah.
Salah satu momen ikonik dalam cerita tersebut terjadi saat tokoh Felipe mengajak tokoh utama berkeliling di Pasar Ubud. Dalam sebuah dialog, terdapat interaksi mengenai buah-buahan lokal Indonesia yang dianggap eksotis bagi warga mancanegara, termasuk rambutan dan durian.
"seperti jeruk yang bercinta dengan buah plum! Durian...tidak, tidak, kamu tidak akan mau memakannya - rasanya seperti kaki kotor..." kata Felipe, Tokoh dalam Buku Eat, Pray, Love.
Deskripsi jenaka tersebut menyoroti perbedaan budaya dalam menanggapi aroma dan rasa buah durian yang bagi sebagian wisatawan dianggap menyengat. Melalui berbagai interaksi dan pengalaman rasa ini, Bali akhirnya diposisikan sebagai tempat bagi sang penulis untuk membuka hati pada cinta yang tak terbatas.