Ketika pilihan yang tersisa hanya kematian, atau mempercayai ide dari anak kecil berusia 13 tahun bernama William Kamkwamba, akhirnya muncul secercah harapan baru.
Film yang diangkat dari kisah nyata ini memberikan kesan yang baik bagi penontonnya. Diadopsi dari buku yang berjudul Memoar The Boy Who Harnessed the Wind karya William Kamkwamba dan Bryan Mealer yang dipublish 27 Juli 2010, mengisahkan perjuangan anak muda yang bertekad untuk keluar dari bencana kelaparan. Meski menjadi pengalaman pertama Chiwetel Ejiofor menyutradai film, Ejiofor membawakan cerita dengan epik. Tak hanya itu, sembari menjadi sutradari Chiwetel Ejiofor ikut bermain sebagai Trywell Kamkwamba, atau ayah dari tokoh utama.
Beberapa laman memberikan penilaian positif pada film yang berlatar di Malawi ini. Dari laman IMDb mendapat rating 7,6/10. Untuk laman Rotten Tomatoes memberi skor 86% tomatometer dan rating 87% dan juga Netflix menunjukan 96% audiens menyukai film ini.
Film berdurasi 113 menit ini pertama kali diputar di Sundance Film Festival pada 25 Januari 2019, selanjutnya didistribusikan melalui kanal Netflix. Tokoh utama William Kamkwamba yang diperankan oleh Maxwell Simba menggunakan bahasa Chichewa dan Inggris.

William Kamkwamba berusia 13 tahun menjadi anak seorang petani yang kerap mengalami krisis lahan. Hidup di dua cuaca, panas dan hujan ternyata membawa petaka bagi pertanian keluarga. Ketika hujan, maka lahan akan kebanjiran dan ketika panas, lahan tani menjadi kering kerontang. Tak hanya kemiskinan, bencana kelaparan juga menerpa keluarga ini.
William Kamkwamba terpaksa tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena tidak dapat membayar uang sekolah. Dirinya pun tidak diperkenankan pihak sekolah untuk mendatangi sekolah.Namun, karena tekad yang kuat, William Kamkwamba tidak berputus asa dan pasrah pada keadaan. Dirinya diam-diam datang ke sekolah dan mengintip ke kelas. Meski sempat ketahuan ia terus datang ke sekolah dan pergi ke perpustaannya. Dirinya percaya, dengan ilmu yang didapat, William Kamkwamba, bisa membawa keluarga Kamkwamba keluar dari keterpurukan.
Terinspirasi dari buku sains yang dibacanya ketika di perpustakaan, dirinya menemukan konsep turbin. Turbin angin ini dapat menciptakan listrik yang menyalakan mesin air, agar lahan kering dapat menjadi subur dengan disirami air. Dirinya harus bergulat sendiri dengan kepercayaan yang ia miliki. Karena usia yang relatif muda, ide yang seharusnya menjadi solusi malah dicaci maki orang sekitar.

Terdapat adegan sentilan politik dalam film ini, ketika seorang penguasa mendatangi desa Malawi. Namun, bukannya menolong, sang penguasa ini malah tidak membantu. Siapa pun yang protes dengan keadaan, harus menelan kepedihannya sendiri, dihajar oleh para pengawal. Desa ini harus selalu terlihat makmur di depan penguasanya.
William Kamkwamba mengajak teman-temannya untuk keluar dari masalah lahan pertanian. Namun usaha William Kamkwamba tidak berjalan mulus, krisis bahan pangan terlanjur melanda. Masyarakat menjadi brutal dan mencuri bahan makanan milik siapa pun yang masih memilikinya. Kakaknya yang putus asa pun ikut meninggalkan keluarga ini di tengah bencana. Upaya turbin yang digadang-gadang akan menjadi solusi di daerahnya tidak mendapatkan kepercayaan rekan dan keluarga. Bahan makanan semakin menipis.
Film ini mampu membawa penonton mengarungi lautan emosi, tidak hanya sedih tapi memberikan semangat yang kuat dalam derasnya arus keputusasaan.ditambah lagi mengingat film ini berdasarkan kisah nyata, tentunya dapat memberikan pengaruh psikologi yang baik bagi para penikmat film ini.
NTA